TIL #3 : Neobank

TIL adalah singkatan dari Today I Learned. Di sini gue menulis penjelasan singkat istilah baru seputar startup, teknologi dan fintech. Nama TIL terinspirasi dari subforum reddit . Semua edisi TIL bisa dibaca di link berikut.

Edisi hari ini akan membahas tentang bank yang baru, berbasis aplikasi dan tanpa kantor cabang.

Ilustrasi neobank. Photo by Blake Wisz on Unsplash

Neobank adalah versi milenial dari bank reguler : lahir dengan teknologi, desain warna warni dan minim aset. Definisi resminya, neobank adalah layanan perbankan sepenuhnya berbasis aplikasi, dari pendaftaran hingga transaksi. Biasanya tidak punya kantor cabang dan beroperasi layaknya tech startup ketimbang institusi finansial yang formal.

Continue reading “TIL #3 : Neobank”

TIL #2 : No Code

TIL adalah singkatan dari Today I Learned. Di sini gue menulis penjelasan singkat istilah baru seputar startup, teknologi dan fintech. Nama TIL terinspirasi dari subforum reddit . Semua edisi TIL bisa dibaca di link berikut.

TIL edisi minggu ini membahas tentang tren demokratisasi pengembangan perangkat lunak untuk kamu-kamu yang tidak kuliah informatika : no code.

Illustrasi kegiatan koding. Photo by Kevin Ku on Unsplash
Continue reading “TIL #2 : No Code”

TIL #1 : SPAC

TIL adalah singkatan dari Today I Learned. Rubrik impulsif yang gue buat untuk tulisan mingguan edisi hari ini. Di sini gue menulis penjelasan singkat istilah baru seputar startup, teknologi dan fintech. Nama TIL terinspirasi dari subforum reddit yang sering gue baca.

Di TIL edisi hari ini, gue akan menjelaskan istilah pasar modal yang sedang hits di Silicon Valley : SPAC.

Ilustrasi Wall Street. Photo by Roberto Júnior on Unsplash

Apa itu SPAC ?

SPAC adalah singkatan dari Special Purpose Acquisition Vehicle. Definisinya adalah perusahaan publik khusus dibuat untuk keperluan akusisi. SPAC mengalami proses IPO seperti biasa, tercatat di pasar modal tetapi dia tidak mempunyai kegiatan operasional bisnis dan didesain untuk menjadi “wadah kosong” yang akan di “tempati” perusahaan yang akan di akusisi.

Setelah merger terjadi, SPAC melebur menjadi perusahaan yang diakuisi dan tetap tercatat sebagai entitas di pasar modal tersebut.

Akhir-akhir ini, Beberapa perusahaan terkemuka go public menggunakan SPAC. Salah duanya adalah maskapai Virgin Galactic dan startup truk elektrik Nikola. Tren menjadi semakin hangat setelah beberapa investor besar mendirikan SPAC mereka sendiri sebagai wadah investasi kedepan. Nama-nama besar seperti pendiri Linkedin Reid Hoffman, mantan eksekutif awal Facebook Chamath Palihapitiya dan investor bilyuner Wall Street Bill Ackman.

SPAC dianggap alternatif yang lebih cepat dan lebih murah dibandingkan IPO konvensional.

Akan tetapi SPAC juga lebih beresiko, karena investor mempercayakan uangnya sebelum proses akuisisi terjadi. Seperti urunan naruh duit di topi pas lagi nongkrong. Lo gak tau uangnya bakal dipake apa. You just have to believe sama temen lo yang ngumpulin duit.

Gue belum tahu aturan detail mengenai SPAC atau yang setara di pasar modal Indonesia. Tapi melihat tren di US, sepertinya model go public alternatif seperti ini menjadi opsi menarik untuk startup-startup unicorn lokal. Unicorn seperti Gojek, Traveloka dan Tokopedia belum ada yang go public.

Startup teknologi yang baru masuk bursa akhir-akhir ini adalah Cashlez.

Apakah Wilson Cuaca akan membuat SPAC di Indonesia ? Lets wait and see.

Referensi lebih lanjut mengenai SPAC, bisa dibaca di link berikut :

Demikian untuk edisi perdana dari TIL. Klo lo ada ide istilah asing apalagi yang bisa gue bahas di edisi berikutnya, komen aja disini atau mention @kikiahmadi di twitter. Thanks!

Terima kasih telah membaca artikel ini. Jika kamu menikmati tulisan ini dan ingin mendapatkan update tulisan terbaru, artikel / podcast / video youtube dan juga musik menarik yang aku rekomendasikan, sila subscribe email list dibawah.

Processing…
Success! You’re on the list.

Substack dan Model Bisnis Baru Jurnalisme

Casey Newton, jurnalis teknologi dari publikasi The Verge, minggu kemarin mengumumkan bahwa dia keluar dari media yang membesarkannya dan bersolo karir. Casey sebelumnya terkenal karena membongkar praktek moderasi konten ekstrim di Facebook. Memanfaatkan platform Substack, Casey meluncurkan newsletter berbayar berjudul Platformer yang membahas berita lanskap industri media sosial.

Casey bukan satu-satunya jurnalis yang menempuh jalur ini.

Ilustrasi Media Cetak. Photo by Markus Spiske on Unsplash

Di newsletter resmi mereka, Hamish McKenzie founder Substack, membuat senarai puluhan jurnalis terkemuka yang memulai publikasi independen di platform ini. Salah duanya, yang gue suka, The Profile dari ex-kontributor fortune, Polina Marinova dan Reporting dari mantan Rolling Stone Matt Taibi. Hamish memposisikan Substack sebagai jalur indie untuk jurnalis dan penulis.

Yang dilakukan Casey dan Substack menurutku adalah alternatif model bisnis yang menarik ditengah ketidakpastian masa depan karir jurnalis. Gelombang layoff menerpa raksasa industri media besar internasional seperti Buzzfeed, Conde Nast, Quartz dan Vice. Di dalam negeri tidak jauh berbeda, di tahun 2020 ini Kumparan dan Jakarta Post terpaksa mengambil langkah PHK. Di Twitter, sempat ada gerakan solidaritas membeli langganan digital Jakarta Post.

Media online kebanyakan mencari revenue bukan dari pengguna mereka tetapi dari pemasang iklan. Gue menikmati semua konten Detik, Tempo dan juga Jakarta Post tanpa pernah membayar. Sebagai gantinya, gue harus terima untuk di berikan promosi iklan-iklan interstitial yang annoying dan headline-headline pemancing klik.

Dengan model bisnis seperti ini, produsen konten media tidak ada insentif langsung untuk memberikan produk jurnalisme berkualitas untuk penikmat media, karena revenue datang bukan dari end user. Di sisi lain, tanpa konten berkualitas, pembaca tidak alasan juga untuk membayar dan loyal terhadap publikasi tersebut.

Substack menawarkan solusi dengan mendesain platform publikasi newsletter dan blog yang defaultnya berbayar. Penulis dan jurnalis bisa memulai publikasi independen premium mereka dengan beberapa klik.

Substack, seperti juga ekonomi renjana lainnya, membuka opsi individu untuk bisa hidup dan berkarya secara independen. Jurnalis individu kini bisa menulis dan menjangkau pembaca tanpa harus bergabung dengan media massa. Beberapa contoh sukses one-man-show seperti ini adalah Stratechery dari Ben Thompson yang run-rate revenue tahunan nya mencapai 200 ribu dollar, publikasi politik konservatif The Dispatch dan jangan lupakan podcast Joe Rogan yang dibeli Spotify senilai ratusan juta dolar.

Sebuah media massa dengan seratusan karyawan, mungkin membutuhkan puluhan atau ratusan ribu pelanggan berbayar untuk menutup biaya operasional dan menghasilkan keuntungan. Tapi misalkan seorang jurnalis, memasang tarif 50 ribu perbulan untuk membaca konten publikasinya. Dia hanya butuh seribuan subscriber untuk mencapai revenue 50 juta per bulan. Dengan gaya hidup yang ramen profitable, sebagian besar dari 50 juta tersebut adalah pure profit.

Setara gaji VP di startup unicorn. Jauh dengan standar di industri media saat ini. Mencapai level tersebut bukan hal yang mudah tapi model bisnis seperti ini memungkinkan.

Substack saat ini hanya menyediakan integrasi dengan payment gateway Stripe yang belum tersedia di Indonesia. Sehingga user Indonesia belum bisa mengaktifkan fitur berbayar. Ini peluang untuk platform lokal untuk menangkap peluang ini. Karyakarsa sebenarnya menyediakan fitur konten berbayar ini dengan metode pembayaran wallet Gopay / OVO yang lebih inklusif dibanding kan kartu kredit. Tetapi platform mereka, tidak (atau belum) di desain untuk konten penulisan.


Di tengah era berita hoax dan polaritas politik yang tajam seperti ini, sebenarnya kebutuhan untuk produk jurnalisme yang dalam dan berkualitas menjadi sangat penting. Platform seperti Substack dan sejenisnya membuka optimisme model bisnis yang lebih mensejahterakan penulis, jurnalis dan pekerja pers lainnya. Penikmat media seperti gue juga bisa dengan mudah mendukung (dengan uang) produk jurnalisme yang gue nikmatin.

Semudah dan semurah memilih kopi apa yang harus gue konsumsi di istirahat siang hari ini.

Berikut beberapa referensi yang gue baca untuk menulis tulisan kali ini.

Tulisan ini terinspirasi oleh obrolan dengan Ardi Wilda.

Terima kasih telah membaca artikel ini. Jika kamu menikmati tulisan ini dan ingin mendapatkan update tulisan terbaru, artikel / podcast / video youtube dan juga musik menarik yang aku rekomendasikan, sila subscribe email list dibawah.

Processing…
Success! You’re on the list.

Localizing Group Buying in Indonesia

One of noticeable recent trend in ecommerce is group buying. The trend is ignited by the rise of Pinduoduo (PDD), Chinese company offering group buying services. In just 5 years, Pinduoduo skyrocketed from small aplication inside We-chat into challenging Alibaba as the biggest c-commerce in China. Fueled by this trend, group buying startups are emerging in Indonesia. Among them are Kitabeli, Chilibeli, Rates and Woobiz.

Image of traditional market in Indonesia. Photo by Artem Beliaikin on Unsplash

Ecommerce in Indonesia has been rapidly growing for the past decade. Penetration compared to offline retail however is still less than 1%. There is an ample room for innovation in this space, including group buying. But blindly copying what works in China might not produce similar result here.

In this article, i write my thoughts on how PDD does group buying and whether bringing in their model could work in Indonesian context.

Lets go!.

Continue reading “Localizing Group Buying in Indonesia”

Four Podcast on Innovation

I live and breathe podcast. I listen to 2 podcast episodes a day since probably 2017. One episode for commuting my way to the office and one on my way home. On weekends, i still listen to podcast while cooking and doing dishes. That like 500-600 episodes a year. It might classify as an addiction by this point.

Photo by Austin Distel on Unsplash

In this article, i share four podcast on Innovation and Entrepreneurship. Topic i really passionate about, so much so i took master’s degree on that specific topic. These four podcast has been my go to inspiration list to find new ideas at work. Doing innovation is hard, listening to stories of how other people went through the process help me to push forward the hardness. If you’re in the business in finding new ways to do something, in the midst of pivot or trying to start a business in these covid times, these four podcast are for you.

I use Spotify and Google Podcast app to listen to podcast. All podcast here should be available in other players as well.

Lets start

Continue reading “Four Podcast on Innovation”

Newsletter Recommendations

Ive been digesting lots of great articles from newsletters. A content delivery method as old as the internet itself. I previously sees newsletter as annoying and filled with ads. But there are trove of amazing contents in newsletters. Just never know where to look until recently.

Illustration of email newsletter. Photo by Stephen Phillips – Hostreviews.co.uk on Unsplash

Newsletter became hot this year due to Substack, platform to start your own newsletter in minutes. Substack also serves as publication platform, hence newsletter not only pushed to email inbox but hosted like a blog. Substack makes production, discovery and also monetization of newsletter become dead simple.

Premium newsletter is a big business. In one episode of Altucher podcast, James discussed about Agora, company producing paid podcast which worth hundreds million dollar. Since distribution cost is essentially zero, this business is all profit. Substack also champions paid newsletter as better business model for journalism and inviting news writers to create their own space. Using their payment feature, Substack has enabled their top creators to earn five-figures annually.

In the section below, ill share several recommended newsletters on business, startups and entrepreneurship. Reading these is delightful and insightful way to start my days, hopefully it will be useful for you as well.

Continue reading “Newsletter Recommendations”

Notes from Medici Webinar

Today, I was invited to be on discussion panel for a webinar held by Medici, global fintech research firm. Along with speakers from Tokopedia, Quona Capital and Koinworks, we discuss P2P lending landscape in Indonesia, challenges and opportunities.

Medici Fintech Webinar

To prepare for this session, i made preparation notes based on the briefing materials. Not all questions made to the discussion, but hopefully its still useful.

Here you go!

Payments as entry point, then lending as profit builder and horizontal financial services as the end game.  Do you agree with this model? 

Seems like a way to play for Gopay and OVO. I see Investment play as a means for stickiness. People will less likely to churn if they have a portfolio in their wallet. But i believe, mono to multi services play can be from anywhere. Things could also get interesting if the virtual bank license is out. The race for fintech players from any vertical to become a full-fledged bank will be on.

How has P2P lending evolved in Indonesia?  Consumer loans are 1/3 of the ~350 bn USD existing loan market in Indonesia. Are SME loans and micro-financing maturing and gearing up for this other 2/3 market share? 

I see the trends moving from cash-loan to less-risky non-cash options. Example of this is, P2P partnering with commerce apps to offer credit lines or pay later ( paylater in Mitra Bukalapak & GrabKios).

What’s the difference between Indonesia and China P2P Lending market ?

I presented this topic before in Tokopedia sharing session, here is the presentation material.

What’s the latest in the consumer facing buy now pay later (BNPL) segment?  Is it eating the lunch of mainstream retail credit cards or truly expanding the consumer lending market? 

Not really. Credit card penetration in Indonesia has been very low (20 mio, less than 10% population) hence paylater services tend to serve untapped credit segments. Lower credit value with higher risk, younger urban population. 

How are P2P loans to SMEs and consumers different in your approach to origination, risk modelling and acceptable NPL?  Which seems to be better business? Are the three categories of P2P SME loans, micro-financing and consumer BNPL multi-finance getting more distinct or fuzzy and consolidating?  

Even though Amartha P2P lending, but from the borrowing side we do Grameen lending. Amartha is also very focused on rural, we operate on kecamatan / village level which is 2-3 level outside big cities. 

Hence in terms of product, operational model, credit scoring, we tailored specifically for this segment. For example, we do mix of online-offline operations. Our field apps are designed to be offline-first due to low connectivity  especially outside Java. 

What are retail commercial banks doing to counter/work with new lending players?  Is the unaddressed market (region and segments) large enough for collaboration? 

Many commercial banks, especially bigger banks, are jumping in directly in the P2P wave by becoming institutional lenders. OJK has regulations to have 20% of the Bank’s loan portfolio to be channeled to MSME. Hence, channelling loans to P2P is seen as double whammy, compliance and revenue wise. 

The one who jumped directly in the online lending competition is BRI, who launched two digital lending app Pinang & Ceria. Pinang is a cash loan app targeting salaried employees using BRI payroll services. Ceria is offering digital installment options apps. Both services however are still only available to existing BRI customers. 

In my opinion, there are still plenty of rooms. Half of the country is still unbanked. Out of 500 USD bio total loans, 70% loans are still disbursed in Java island alone. The rest of the island are blue oceans.  

Will investments and insurance be the end-game in Indonesia after commerce and lending, and lead to a few large horizontal players by 2025-2030? 

I think forecasting is futile these days. 

However, investment right now is one of the most exclusive financial services. Registered investors are only 2 million out of 250 million (less than 1 percent). The sector was experiencing the biggest growth last year and it was the first time new investors are dominated by people under 30s.

Opportunities are immense.

For more detail on these, I wrote materials on Investment and Insurance in Indonesia :

How are the needs of modern retail different from the warungs? What’s the latest and greatest at these two ends of the merchant spectrum in Indonesia?   

Both are different species in terms of size, reach and challenge. 

Smallest modern retail (Indomaret and Alfamaret) have turnover 30-50 mio (2000-4000 USD) revenue daily. Average warung has 1-2 mio (80-150 usd). Indomaret and Alfamaret combined has 30-40k branches nationwide. While Warung, in East Java alone, 1 out of 33 provinces, estimated to have 400k warung. 

Warung is cash business, small margins and limited capital. Problems primarily on cash flow. Most of them don’t track their finances hence it is difficult to get financing access.

I wrote more detail analysis on Warung business in this article.

As credit becomes a bigger business, how is customer data being managed? Are there utilities, regulations and frameworks for aggregating, sharing and monetizing customer data? City authorities in West Java have pioneered public sector data analytics. 

In P2P lending regulatory framework, POJK 77, there already regulations points regarding customer data protection. POJK 77 also refers to UU ITE (Regulations on Information and Electronic transactions) which also covers technicalities on how to store customer data. This I think is quite standard in terms of compliance and code of conduct. 

The one that is still an issue is data governance between government and private sector. For example, electronic id card data. 

What will be the top three defining sectors/themes for Indonesia next year? 

Edutech, Syariah in fintech and probably widening of e-commerce into Groceries and Fisheries

What should companies expanding into Indonesia look out for? What works? What does not?

Indonesia is not only Jakarta and Java islands. Opportunities to be unlocked are massive in other islands.

Thank you for reading. As disclaimer, opinion stated here are my own and doesn’t represent my employers.  

Pivot Pandemi : Penginapan

Selamat datang kembali di seri Pivot Pandemi edisi ke 5. Ini adalah seri tulisan bagaimana bisnis bertahan menghadapi COVID-19. Post ini adalah hasil brainstorming dengan beberapa teman dari berbagai macam industri. Semua seri Pivot Pandemi bisa dibaca di link berikut.

Hari ini gue menulis salah satu bisnis yang dampaknya paling signifkan di pandemi tahun ini : hotel dan penginapan. Salah satu teman kuliah, merintis bisnis penginapan di kota Semarang. Di bulan pertama pandemi menyerang, revenue hilang sama sekali, nol. Temen gue dikejar waktu harus melakukan pivot, agar dapur keluarga dan karyawannya tetap bisa ngebul.

For the rest of the article, bisnis ini akan gue sebut sebagai Rumah 789.

Photo by Jason Briscoe on Unsplash

Pivot Pandemi kali ini akan membahas bagaimana Rumah 789 bertahan. Mulai dari pivot servis tambahan menjadi produk utama, memanfaatkan aset eksisting untuk bisnis baru dan juga bagaimana owner Rumah 789 mengkapitalisasi skillnya untuk menambah penghasilan.

Lets go!

Continue reading “Pivot Pandemi : Penginapan”

Berkarya dan Ekonomi Renjana

Di stand-up specialnya Juru Bicara, Pandji Pragiwaksono berkata ada satu hal yang dilakukan oleh negara maju dan belum banyak kita lakukan sehingga bangsa kita belum semaju mereka.

Hal tersebut adalah berkarya.

Banyak sekali pekerja Indonesia kualitas skillnya world class tapi masih sedikit sekali karya atau brand Indonesia yang mengglobal. Indonesia butuh lebih banyak orang yang berani untuk mengemas pekerjaan mereka menjadi sebuah produk yang di tawarkan kepada dunia.

No alt text provided for this image
Pandji tentang berkarya. Gambar di ambil dari blog Icha Pebrianti.

Bit ini memantik ketertarikan gue tentang berkarya. Dan untuk tahu lebih lanjut, gue kemudian membaca buku-buku dengan topik terkait seperti Linchpin dan Purple Cow dari Seth Godin, Originals dari Adam Grant, Forever Employable dan buku Pandji sendiri, Indiepreneur.

Dari beberapa buku tersebut, gue menyimpulkan beberapa manfaat berkarya :

Continue reading “Berkarya dan Ekonomi Renjana”