Substack dan Model Bisnis Baru Jurnalisme

Casey Newton, jurnalis teknologi dari publikasi The Verge, minggu kemarin mengumumkan bahwa dia keluar dari media yang membesarkannya dan bersolo karir. Casey sebelumnya terkenal karena membongkar praktek moderasi konten ekstrim di Facebook. Memanfaatkan platform Substack, Casey meluncurkan newsletter berbayar berjudul Platformer yang membahas berita lanskap industri media sosial.

Casey bukan satu-satunya jurnalis yang menempuh jalur ini.

Ilustrasi Media Cetak. Photo by Markus Spiske on Unsplash

Di newsletter resmi mereka, Hamish McKenzie founder Substack, membuat senarai puluhan jurnalis terkemuka yang memulai publikasi independen di platform ini. Salah duanya, yang gue suka, The Profile dari ex-kontributor fortune, Polina Marinova dan Reporting dari mantan Rolling Stone Matt Taibi. Hamish memposisikan Substack sebagai jalur indie untuk jurnalis dan penulis.

Yang dilakukan Casey dan Substack menurutku adalah alternatif model bisnis yang menarik ditengah ketidakpastian masa depan karir jurnalis. Gelombang layoff menerpa raksasa industri media besar internasional seperti Buzzfeed, Conde Nast, Quartz dan Vice. Di dalam negeri tidak jauh berbeda, di tahun 2020 ini Kumparan dan Jakarta Post terpaksa mengambil langkah PHK. Di Twitter, sempat ada gerakan solidaritas membeli langganan digital Jakarta Post.

Media online kebanyakan mencari revenue bukan dari pengguna mereka tetapi dari pemasang iklan. Gue menikmati semua konten Detik, Tempo dan juga Jakarta Post tanpa pernah membayar. Sebagai gantinya, gue harus terima untuk di berikan promosi iklan-iklan interstitial yang annoying dan headline-headline pemancing klik.

Dengan model bisnis seperti ini, produsen konten media tidak ada insentif langsung untuk memberikan produk jurnalisme berkualitas untuk penikmat media, karena revenue datang bukan dari end user. Di sisi lain, tanpa konten berkualitas, pembaca tidak alasan juga untuk membayar dan loyal terhadap publikasi tersebut.

Substack menawarkan solusi dengan mendesain platform publikasi newsletter dan blog yang defaultnya berbayar. Penulis dan jurnalis bisa memulai publikasi independen premium mereka dengan beberapa klik.

Substack, seperti juga ekonomi renjana lainnya, membuka opsi individu untuk bisa hidup dan berkarya secara independen. Jurnalis individu kini bisa menulis dan menjangkau pembaca tanpa harus bergabung dengan media massa. Beberapa contoh sukses one-man-show seperti ini adalah Stratechery dari Ben Thompson yang run-rate revenue tahunan nya mencapai 200 ribu dollar, publikasi politik konservatif The Dispatch dan jangan lupakan podcast Joe Rogan yang dibeli Spotify senilai ratusan juta dolar.

Sebuah media massa dengan seratusan karyawan, mungkin membutuhkan puluhan atau ratusan ribu pelanggan berbayar untuk menutup biaya operasional dan menghasilkan keuntungan. Tapi misalkan seorang jurnalis, memasang tarif 50 ribu perbulan untuk membaca konten publikasinya. Dia hanya butuh seribuan subscriber untuk mencapai revenue 50 juta per bulan. Dengan gaya hidup yang ramen profitable, sebagian besar dari 50 juta tersebut adalah pure profit.

Setara gaji VP di startup unicorn. Jauh dengan standar di industri media saat ini. Mencapai level tersebut bukan hal yang mudah tapi model bisnis seperti ini memungkinkan.

Substack saat ini hanya menyediakan integrasi dengan payment gateway Stripe yang belum tersedia di Indonesia. Sehingga user Indonesia belum bisa mengaktifkan fitur berbayar. Ini peluang untuk platform lokal untuk menangkap peluang ini. Karyakarsa sebenarnya menyediakan fitur konten berbayar ini dengan metode pembayaran wallet Gopay / OVO yang lebih inklusif dibanding kan kartu kredit. Tetapi platform mereka, tidak (atau belum) di desain untuk konten penulisan.


Di tengah era berita hoax dan polaritas politik yang tajam seperti ini, sebenarnya kebutuhan untuk produk jurnalisme yang dalam dan berkualitas menjadi sangat penting. Platform seperti Substack dan sejenisnya membuka optimisme model bisnis yang lebih mensejahterakan penulis, jurnalis dan pekerja pers lainnya. Penikmat media seperti gue juga bisa dengan mudah mendukung (dengan uang) produk jurnalisme yang gue nikmatin.

Semudah dan semurah memilih kopi apa yang harus gue konsumsi di istirahat siang hari ini.

Berikut beberapa referensi yang gue baca untuk menulis tulisan kali ini.

Tulisan ini terinspirasi oleh obrolan dengan Ardi Wilda.

Terima kasih telah membaca artikel ini. Jika kamu menikmati tulisan ini dan ingin mendapatkan update tulisan terbaru, artikel / podcast / video youtube dan juga musik menarik yang aku rekomendasikan, sila subscribe email list dibawah.

Processing…
Success! You’re on the list.