REGIS: Cari Cari Paper Web 3.0

So she said what’s the problem baby
What’s the problem I don’t know
Well maybe I’m in love (love)
Think about it every time
I think about it
Can’t stop thinking ’bout it
– Accidentally In Love

KENAPA NERAKA!!!! Beeuuhh, barusan tau dari kholes . Ternyata senen besok ada kelas REGIS : Research Group On Intelligent System jam setengah 4 sore. Padahal harusnya seperti yang sudah distate oleh advisor REGIS (Pak Ruly Soelaiman Skom Mkom), pertemuan selanjutnya setiap korban pengikut REGIS ini diharapkan sudah membawa (dan membaca tentunya) paper untuk didiskusikan belum. Langsung deh blingsatan dan gelagapan. Mulai obok obok IEEE dan google deh saya.

Mulailah dengan sesuatu yang anda minati, begitu nasehat dari advisor REGIS. Karena bingung apa yang sebenarnya saya minati , makanya saya gak mulai mulai (BEUUH!!). Setelah memaksa dan menarik diri saya sendiri, mulai deh saya browsing. Mulai untuk mencari cari topik dalam belantara Intelligent System yang penuh dengan rumus rumus liar, pasir hisap integral differensial dan angka angka haus darah. Akhirnya ada satu topik yang menarik buat saya, web 3.0.

Web 3.0

Generasi Web, diambil dari sini

Continue reading “REGIS: Cari Cari Paper Web 3.0”

REGIS Session: Research What, How and Why

When I saw the break of day
I wished that I could fly away
Instead of kneeling in the sand
Catching teardrops in my hand
– Dont Know Why, Norah Jones

Regis apaan seh mbel? wah, itu benernya saya karang karang sendiri aja. Regis itu singkatan dari Research Group on Intelligent System. Membaca postingan ini mungkin bisa membantu untuk mencerahkan.  Regis ini nama karangan saya aja kok, biar keliatan keren aja selain untuk mempermudah pengucapan : ).

Hari ini adalah pertemuan pertama dari Regis. Tanpa saya duga sebelumnya, ternyata personel yang mengikuti regis ini cukup banyak. Regis ini beranggotakan beberapa sukarelawan dari mahasiswa semster 6 dan mahasiswa semester 8 yang mengambil TA dengan topik seputaran intelligent system kayak neural network misalnya

Beuuhh!! Apa apaan ini

Pertemuan pertama tadi baru introduction to research. Pak Rully Soelaiman bercerita mengenai hal basic tentang research, bagaimana sebuah riset itu dan apa yang bisa dicapai dari sebuah riset.

Hal yang menarik  yang saya tangkap pada saat sesi regis tadi pagi adalah sebenernya riset itu datang karena ada suatu permasalahan dunia nyata. Idealnya sebuah perguruan tinggi dapat menjadi sebuah think-tank atau problem solver dari masalah masalah yang ditemui dalam dunia industri atau di masyarakat umum. Misalnya, sebuah perusahaan x menginginkan proses manufaktur didalam industrinya untuk dioptimasi. Lalu perusahaan tersebut menjalin kerjasama dengan pergurauan tinggi sebut saja ITS (Institut Tunggu Suami, hehehe). Masalah tersebut dapat menjadi  makanan yang bisa dilemparkan ke grup riset yang ada di universitas tersebut. Ada mutualisme yang terjadi disini.

Tapi dunia nyata tidak seindah itu kawan. Menurut sepengetahuan saya sendiri, kejadian seperti diatas  sangat jarang saya temui di kampus/ universitas saya. Terjadi deadlock menurut asumsi saya. Pihak industri belum ngasih kepercayaan karena riset yang di lakukan universitas kurang terdengar atau bahkan tidak ada. Sementara di kampus, riset kurang diminati / digalakkan karena minim sponsor. Terjadi kondisi saling menunggu.

Klo terus nunggu adanya umpan dari pihak industri berarti kegiatan riset ini gak jalan jalan nantinya. Sementara kalau mau riset tanpa mengetahui problem nyatanya, bisa bisa riset yang dilakukan bakalan gak bisa diterapkan atau berada di domain supranatural not in this real world.

Alternatif riset yang bisa dilakukan (yang saya tangkep di sesi tadi pagi) adalah melakukan riset based on kajian pustaka. Asumsikan ada seseorang sebut saja A, bukan nama sebenarnya. Beliau mempunyai akses langsung terhadap sebuah masalah sebut saja M, bukan masalah sebenarnya. Beliau melakukan riset, penelitian, survey dan segala macem ritual akademis lainnya untuk men solve permasalahan tersebut. Lahirlah sebuah paper berkat kerja keras A tadi. Misalkan saya ingin menganalisis permasalahan yang sama dengan si A tadi tetapi saya tidak mempunyai direct access terhadap masalah M, saya dapet menggunakan paper si A tadi untuk mendapatkan “pencerahan” tentang seperti apa M tersebut sebenarnya. Mungkin kita hanya mendapatkan third person view dari masalah tesebut, tapi setidaknya kita dapat view yang ligitimate dan terpercaya dari si A yang sudah benar benar hands on dengan M. Daripada menerawang , berkhayal dan menunggu wangsit yang gak jelas, i think thats a better way.

Sesi regis tadi pagi berakhir jam 11 pas. Masing masing personel sesi tadi pagi mendapatkan tugas untuk mencari paper atau jurnal. Jurnal tersebut nantinya bisa dijadikan trigger dan panduan riset untuk peserta regis ini.

Sekian deh ocehan saya masalah regis ini. Masih berusaha untuk menanamkan ketahanan terhadap rumus  neural network yang dapat menyebabkan keluarnya cairan otak pada hidung dan telinga.

Semangat temen temen

: )

Intelligent System Research Group

no, what do you own the world?
How do you own disorder, disorder,
Now, somewhere between the sacred silence,
Sacred silence and sleep,
Somewhere, between the sacred silence and sleep,
Disorder, disorder, disorder.
– Toxicity, System Of A Down


Hari kamis kemaren adalah pertemuan pertama dari mata kuliah Intelligent System. Mata kuliah yang saya anggap angker. Dan kebetulan di ampu (di ajar) oleh dosen yang “angker” juga. Sebelumnya saya sebenarnya pengen menghindar dari dosen teresebut, tetapi karena dua kelas beliau semua yang mengajar ya apa boleh buat. Kenapa mata kuliah ini angker?because its all about mathematics and stuff. Bayangin aja gimana kedernya waktu mendengarkan penjelasan beliau mengenai integral tingkat 10. Im really suck at math dan mata kuliah ini bakal jadi mimpi buruk bagi saya.

Setelah beberapa menit pembukaan dan overview mengenai machine learning, neural network dan review paper beliau, ada sesuatu yang benar benar baru saya dengar sepanjuang sejarah perkuliahan saya. Pak Rully Soelaiman, dosen saya ini menawarkan untuk membagi kelas Intelligent System menjadi dua. Kelas reguler dan kelas riset. Klo yang kelas reguler kuliahnya biasa aja, klo yang kelas riset kuliahnya modelny mirip dengan kuliah s2. Setiap mahasiwa diberikan sebuah paper, dan sepanjang kuliahnya itu isinya mbahas paper, presentasi, bikin proposal riset dan segala macem. Dan yang jelas materi papernya gak jauh jauh dari Intelligent System ini. Setelah itu dibagikan kertas pendaftaran, yang tertarik tanda tangan di kertas itu.

Saya tanda tangan di kertas itu. Nekat? Yap!! Ini kontrak mati saya dengan Pak Rully. Seperti yang pernah saya ceritakan pada postingan sebelumnya, seumur hidup saya menghindar dengan sesuatu yang berbau matematis. Ada gejala kejang kejang mirip epilepsi setiap kali saya melihat rumus dan macem macemnya. ketika dihadapkan dengan pilihan seperti ini? apakah saya akan terus lari? Nggak, saya memilih buat stand up and take the stake. Sampai kapan saya harus lari? dan ini kesempatan buat saya untuk melihat sejauh mana sih batas kemampuan saya. Dan saya memprediksikan bakalan berdarah darah di kelas ini, im going to walk thru hell. Saya juga pengen liat, sejauh mana saya bisa bertahan dari hentakan gelombang otak melihat rumus rumus neural network yang bejibun.

Kelas riset masih mulai sekitaran 2 minggu lagi. Masih ada waktu buat mempersiapkan mental, tapi sudah terlambat untuk mundur. Sementara ini masih asyik baca baca masalah SOA, thanx to mas Joni Farizal. Ada yang sempet nanya, “Gak jadi E business mbel?” wekekekek kayaknya masih pur, ini kan riset. Dan buat informasi aja, kelas riset cuman sekitar 20 an orang. Hmm kayaknya kita butuh nama deh buat ini. Ada yang punya usul?

Segitu deh laporannya. Tetep semangat!!!

: )