Nauval & Atiek

Nauval,

Interaksi pertama kami terjadi di air terjun Coban Rondo di Malang beberapa jam setelah akhir ritual kaderisasi mahasiswa baru. Selama masa tegang ospek, Nauval konsisten menjadi senior dengan antarmuka yang ramah pengguna. Kami belum saling mengenal pada saat itu namun secara subliminal saya melangkah dan bertanya dimana toilet terdekat berada. Nauval menawarkan untuk berjalan bersama dan kami pun mulai saling mengobrol.

Dasar pertemanan kami di tahun tahun setelah itu adalah obrolan software engineering, open source atau berita berita teknologi lainnya. Meskipun almamater kami menyandang kata teknologi di tengahnya, hanya segelintir mahasiswa yang antusias membicarakan perkembangan terbaru di bidang yang kita pelajari setiap hari. Nauval adalah bagian dari minoritas tersebut.

Selain itu kami berdua termasuk mahasiswa yang memaksimalkan utilisasi uang SPP dengan cara, well, tinggal dan tidur di laboratorium pemrograman. Mas Bambang sebagai admin lab mempekerjakan kami berdua dan beberapa mahasiswa tuna wisma lainnya untuk menjadi merbot dan juru kunci dengan imbalan jaket laboratorium.

Keniscayaan bahwa saya dan Nauval akan selalu berada di lab di malah hari juga ternyata membawa keuntungan finansial.

Beberapa kali kami diajak untuk terlibat proyek pemrograman uang jajan. Salah satu yang saya ingat adalah website korporat untuk operator telekomunikasi plat merah. Semalam suntuk kami mengutak atik kode dan desain menggunakan Joomla kemudian di pagi berikutnya dilanjut dengan presentasi hasil kerja didepan para manajer. Tentu saja sesuai dengan kultur dan kredo mahasiswa ITS, mandi dan tidur adalah opsional. Satu setengah juta untuk kerja semalam. Tidak buruk untuk dua tuna wisma fakir bandwidth berkedok asisten lab.

whatsapp-image-2016-12-17-at-14-08-35

Nauval meninggalkan kampus setahun lebih dahulu dan kami tidak pernah bertemu lagi untuk waktu yang cukup lama.

Atiek,

Pertemanan kami bermula oleh sebuah perjalanan. Di tahun 2011, saya tinggal dan bekerja di Kuala Lumpur. Agung, room mate dan juga kompratriot sekantor, suatu hari mengajak untuk backpacking ke Chennai, India. Agung mengajak seorang temannya yang lain, perempuan berkerudung yang ketika itu sedang menempuh studi S2. Mereka berdua bertujuan untuk mempresentasikan paper di sebuah seminar. Sementara saya turut serta karena tidak punya agenda lebih baik untuk menghabiskan akhir pekan. Yang kemudian terjadi  adalah kejadian absurd demi kejadian absurd yang lain.

kik atiek agung.jpg

Sekembalinya ke Indonesia, Atiek kemudian mengajak saya dan beberapa teman yang lain untuk nongkrong di kantor Indonesia Mengajar. Berawal dari ngobrol ngobrol, berbagai macam kegiatan kerelawanan lahir. Mulai dari  professional volunteer program yang kemudian menjadi kelas inspirasi, bergulir dari satu kota ke kota yang lain. Atiek menjadi bagian penting dari pergerakan ini dan tidak jarang juga menjadi koordinator.

Indonesia Mengajar membuat saya sering bekerja bersama Atiek. Bukan tim yang ideal sebenarnya karena setiap kali kami terlibat dalam rapat, atmosfir serius hanya bisa bertahan 15 menit pertama saja. Menit menit setelah itu hampir pasti akan terisi dengan joke receh, plesetan dan hal hal aneh lainnya.

Selain menambah repertoir joke remah remah, berteman dengan Atiek membuat saya belajar tentang hal yang tidak saya duga sebelumnyaAtiek bekerja di lembaga pengembangan internasional dan seringkali melakukan implementasi proyek energi terbarukan di daerah terpencil di Indonesia. Dari Atiek, saya belajar tentang permasalahan energi di Indonesia, isu isu development dan hal hal sustainability yang lain. Ini menarik karena topik ini semacam antitesis dari profesi saya yang sangat korporat (menyokong pemilik kapital untuk membuat keputusan berbasis profit ). Mendengar cerita cerita Atiek juga memperkaya perspektif saya tentang betapa beragamnya Indonesia dan permasalahan permasalahan yang dia temui dalam perjalanannya.

Nauval dan Atiek,

Suatu hari saya dan istri datang ke sebuah acara sharing knowledge tentang implementasi energi terbarukan karena Atiek menjadi pembicara disitu. Ketika Atiek  sedang presentasi, istri saya memuji betapa pintar dan cantiknya atiek (tiek, kalimat ini berbayar. Tunggu invoice di email). Kemudian bertanya apakah saya mengenal pria jomblo rajin sholat dari keluarga baik baik dengan intelejensia yang setara.

Nama Nauval muncul tetapi yang dimaksud sedang berada di Skotlandia untuk menyelesaikan studi S2.

Anehnya, di Scotland, Nauval satu rumah dengan Agung. He became a room mate of my room mate.

Agung kembali ke Indonesia lebih dulu dan beberapa kali kami membicarakan kebetulan aneh ini. Di salah satu sesi obrolan sepulang kantor kita, ide mempertemukan atiek dan nauval muncul secara natural. Through peculiar concidence, my friend and agung’s friend apparently become our mutual friends. Diantara saya, agung, atiek dan nauval hanya atiek dan nauval saja yang belum pernah berinteraksi. Butuh waktu yang cukup lama tetapi akhirnya kami berempat bertemu dan berada di satu tempat yang sama tidak lama setealh Nauval kembali ke Indonesia.

Yang selanjutnya terjadi adalah gravitasi. Beberapa kali saya mendengar atiek dan nauval terlihat datang berdua di acara acara Indonesia Mengajar. Selang beberapa lama, undangan datang dan kemudian akhir pekan kemarin, Agung mengirimkan foto ini di grup.

WhatsApp Image 2016-12-23 at 07.24.06.jpeg

I was so happy and sad at the same time. Saya tidak bisa hadir ketika kedua teman baik yang saya temui fase kehidupan yang berbeda, mengucap janji didepan penghulu untuk menjadi suami istri.

Cerita mereka berdua juga mengingatkan saya akan adagium klasik tuhan tahu tapi menunggu. Di kondominium Orion Kuala Lumpur, tempat dimana saya dan agung pernah tinggal, atiek dan nauval pernah berada di tempat yang sama namun dengan waktu yang berbeda. Mereka berdua baru bertemu tidak kurang dari lima tahun setelah itu. Memang sih kalau sudah jodoh, pastinya gak akan kemana…indra kemana (ha!).

Oh well,

Selamat membuka lembaran dalam fase hidup yang baru Tiek, Val. Sampai ketemu tahun depan dan semoga ketika kita bertemu kembali, Ghazi bisa berkenalan dengan teman bermainnya yang baru.

Advertisements