Resensi #1 – Indiepreneur – Pandji Pragiwaksono

Masa WFH, Pandemi dan Ramadhan ini membuat aku mengkonsumsi lebih banyak buku, podcast dan artikel dari biasanya. Supaya lebih produktif dan tambahan konten, aku akan mulai mencatat dan membagikan disini ringkasan dari setiap materi menarik yang ku konsumsi.

Seri artikel ini bernama resensi dan yang pertama adalah sebuah buku dari Pandji Pragiwaksono berjudul Indiepreneur. Resensi akan ku post setiap minggu di akun instagram ku dibawah.

Selain di instagram, resensi juga tersedia dalam bentuk pdf di link berikut. Buku Indiepreneur dari Pandji Pragiwaksono bisa dibeli di Tokopedia – Karya Pandji.

Pivot di Saat Pandemi

Ini adalah masa paling menantang yang saya hadapi sepanjang hidup. Tidak pernah terpikir bahwa selama hampir satu bulan setengah berjalan, kita semua tidak bisa keluar rumah. Virus corona membuat hampir semua kegiatan ekonomi yang bergantung dari interaksi orang ke orang menjadi terhenti. Beberapa industri sudah mulai kolaps : pariwisata, musik, event, transportasi. Selain itu, ekonomi secara general melambat drastis hanya dalam waktu 2 bulan sehingga gelombang layoff mulai terjadi. Yang masih beruntung untuk digaji, menatap hari besok dengan tidak pasti sebari menghitung tabungan.

woman in black framed eyeglasses using laptop computer
Photo by engin akyurt on Unsplash

Seperti sabda Darwin, yang bertahan adalah yang paling beradaptasi. Survivabilitas di tahun 2020, sepertinya bergantung seberapa cepat kita pivot dengan kondisi corona ini baik secara professional di kantor maupun secara personal.

Selama sebulan ini, saya banyak mengkonsumsi video, artikel dan podcast terkait efek corona terhadap bisnis dan bagaimana mencari sumber pendapatan baru. Berikut beberapa diantaranya. Kalau ada referensi materi bagus dari teman teman, boleh loh di tulis di komen atau mention saya di twitter dan instagram @kikiahmadi. Akan saya update ketika mendapat referensi baru.

Lets survive together.

Continue reading “Pivot di Saat Pandemi”

From Ideas to Rollout

Summary of this article can also be read in this presentation.

Ive been managing a business development (BD) team for 3 years now. During this time, i see that BD role can meant different things. In some companies, the role skews more to sales, in other it might be more to product development. There also stark difference from BD in big corporate versus in startup. The first one might be more to high-level strategic partnership, while the latter more hands-on with business operations and expansions.

In Amartha, i can summarize my work as developing new business by pushing ideas into rollout. In this post, ill share several of my learnings developing new product / business, starting from brainstorming scribbles in notepad, work the ideas into concept slides, running a pilot and finally decide to expand it in multiple areas.

Continue reading “From Ideas to Rollout”

Insurance and Insurtech in Indonesia

To accompany this blog posts, i created also report version of this in presentation form.

In the past decade, the insurance industry in Indonesia has been growing from IDR 125 trillion in 2010 up to nearly IDR 500 trillion this year. Despite this growth, penetration in population is still very small. In terms of economic contribution,, insurance spending only account for 2.3% of GDP while the number of private insurance policy holders also less than 3% of the population. In 2014, national health insurance (BPJS Kesehatan) was established by SBY Administration. Current coverage for this is estimated around 75% of population or ~180 million people. With the rate of growth and low penetration of private policy holders,  Insurance market in Indonesia is a massive untapped opportunities. 

Current market value are still majority contributed from Life Insurance. Based on Insurance Association data, more than 80% of gross written premium are from Life Insurance product such as Term-life, Whole-life and Investment Bundled Product (Unitlink). Unit Link is the most sold product of all life insurance, with contribution of more than half of premium sold in 2014. For general insurance, market size are driven by car and motorcycle insurance.

In terms of distribution and sales channel, majority of insurance sales are still driven by agents and banc assurance. Agent solve the needs of consultation and product knowledge due to the complexity of insurance products. While for banc assurance, insurance companies are helped by bank agents and customer services to advocate their product to banks existing customer base. 

Recent surge in insurtech makes many people buy insurance online. However they mostly buy simple, one-time product such as flight, delivery or gadget insurance which have simple straightforward policy. Price is usually very cheap as well. Online channel drive high-frequency, low-value transactions. Hence in terms of total market gross premium value, it will still likely contributed by life-insurance sold by agents.

Insurance principal can be divided into two big categories : Life insurance and general insurance. Both have distinct market dynamics. Life insurance are quite concentrated with Prudential as clear market leader. Most of the big players in Life Insurance also foreign entities such as Allianz and Manulife. General insurance on the other hand is quite fragmented with Sinarmas, Jasindo and Astra closely competing to be top 3. Sinarmas and Astra premiums are driven by auto and property insurance while Jasindo and other state-owned insurance (Tugu, Askrindo) are contributed by industry insurance supporting other SOE (e.g Marine, Oil & Gas insurance).

Key Insurance Players Overview in Indonesia

With low market penetration and sales mainly driven by offline channel, Insurance market are just prone to be disrupted by digital players. From big insurance principal who goes digital up to rising startup who try to break through using innovative products.

Continue reading “Insurance and Insurtech in Indonesia”

Warung as The Next Frontier of Indonesian Startups

In the past years, there is a rising trends of startups and companies which aim to digitize traditional retail merchants a.k.a Warung. Kudo pioneered this back in 2014. They then acquired by Grab in 2017, and recently rebranded into GrabKios. Next is E-commerce unicorn Bukalapak who dove in in this space big time by launching Mitra Bukalapak in 2017. Mitra Bukalapak is estimated to have 3 millions registered user which makes them market leader in digital warung. Tokopedia followed on by launching Mitra Tokopedia in 2018. There are also smaller players such as East Venture backed, Warung Pintar, KiosOn and Payfazz.

This warung trend apparently not only happening in Indonesia. Amazon last week just announced their move to partner with thousands of kirana store, Indian version of warung, to be used as delivery hub. Jeff Bezos himself came down to India to launch this. There is also Mastercard which enabling multiple initiatives to digitize mom-pop store in Latin America.

In this article, i dive into the reason why the trend is happening and which direction will warung digital going to go in the near future. Lets go!.

Continue reading “Warung as The Next Frontier of Indonesian Startups”

Musik dan Podcast Menarik 2019

Sudah bulan Desember. Suasana di kantor juga sudah bau liburan. Memanfaatkan kelowongan, aku akan merekap musik dan podcast menarik yang kutemukan tahun ini.

Musik Lokal

Berikut rilisan lokal tahun 2019 dari berbagai genre yang berputar terus di playlistku. Dengan kualitas seperti ini, aku berharap semakin banyak yang tahu bagaimana bagusnya musik Indonesia dari tahun ke tahun. Lets go!

List lengkap musik lokal Indonesia yang aku rekomendasikan bisa didengarkan di playlist berikut.

Move – Tuan Tigabelas

Versi live terbaik dari lagu ini

Assalamualaikum nyonya-nyoya tuan-tuan / Heres come the doom, lari cari bala bantuan.

Dalam dua baris, Upi a.k.a Tuan 13 membantai semua battle rapper sepanjang tahun 2019. Lagu ini adalah suntikan adrenalin instan yang kubutuhkan ketika akan masuk ruang meeting dan mendeliver presentasi penting.

Mooner – Menenggala

Live dari Candi Prambanan

Side-project Rekti The SIGIT yang masih senafas rock and roll tapi dengan sentuhan etnik psychedelic. Menenggala adalah single dari rilisan kedua mereka OM atau Orkes Melayu. Benar, track dari rilisan ini mengandung unsur dangdut. Dangdut + Psychedelic Rock + Acid = berjoget kosmis.

Ardhito Pramono – Fake Optics

Bar kosong, asap rokok tipis-tipis dan segelas whisky. Fake Optics dari Ardhito adalah sebuah ode patah hati generasi Senoparty.

Jangar – Negeri Nego

Gila sih, mendengar lagu ini reaksi pertamaku adalah kenapa Lamb Of God tiba tiba bervokal mas-mas dengan suara sengau. Setelah kuriset lebih lanjut, ternyata yang nyanyi bukan mas mas tapi bli-bli. Jangar, fourtet unit rock progressive dari Bali, liar beraroma bensin dan alkohol. Gas!

The Panturas – Putra Petir

Unofficial Soundtrack Film Gundala

Empat pemuda Jatinangor yang ketika bersatu berubah menjadi titisan spiritual Dick Dale dan membawa ombak revivalist rock selancar California selatan tahun 50an. Terkenal dengan live show yang rusuh, Panturas adalah band lokal teratas dalam wishlist harus ditonton 2020.

Isyana Saraswati – Sikap Duniawi

Isyana yang dulu sudah mati. Welcome to the real Isyana

Isyana dan Raisa, bertarung sengit di tempat satu dan dua top of mind solis wanita di Indonesia. Tahun 2019, Isyana membuka tabir pop dan merilis jati diri dia sebenarnya: album Lexicon. Sikap Duniawi adalah single pertamanya, dengarkan dan lihat bagaimana Isyana Saraswati menempatkan dirinya di level yang berbeda dari semua musisi Indonesia lainnya.

Mari kita tunggu karir Isyana berikutnya di panggung Broadway atau East End, melagukan musikal musikal Disney serta berduet repertoir klasik dengan Sarah Brightman. Aku sendiri menunggu Isyana untuk muncul di panggung Hammersonic, menjadi feature di setnya Deadsquad mungkin. Ala-ala Within Temptation gitu lah mungkin.

Podcast Lokal

Secara garis besar, aku jauh lebih banyak mendengarkan podcast dibandingkan musik di 2019. Beberapa orang sepertinya mengalami hal yang sama. William Tanu Tokopedia, di panggung konferensi TechinAsia, bercerita sudah jarang sekali membaca buku karena beralih ke podcast. Stand up komedian Gilang Bhaskara juga bicara di BiarLega tentang kebiasannya di busway yang bergeser dari mendengar musik menjadi podcast.

Selain itu, skena podcast lokal meledak di tahun 2019 sehingga podcaster lokal menggeser rotasi podcast barat seperti Freakonomics atau How I Built This yang tahun lalu banyak ku dengarkan.

Berikut 3 podcast lokal yang aku rekomendasikan beserta spesifik episode yang menurutku paling bagus.

Podcast Boker – Episode Rhoma Irama

Podcast Boker a.k.a BKR Brothers a.k.a Ryo, Molen dan Bobby. Hands down, podcast paling maksimal dari sisi kengehean. Membahas hal hal terkait pergaulan Jakarta Selatan dengan eksplisit, jujur dan (for the lack of better word) ngehe!. Podcast yang selama tahun 2019, rutin menemani dan membuatku ngakak sepanjang perjalanan kerja dari Cibinong ke Ampera.

Di medio tahun 2000an awal, ketika masih SMA di Surabaya, jadwal rutinku setelah magrib adalah mendengarkan radio. Di EBS FM klo tidak salah, jam 7 sampai jam 9 ada acara yang dipegang oleh DJ bernama Yohanes dan Micky. Sepanjang acara, mereka berdua bercanda jorok, membahas hal-hal seru tentang Surabaya dan ngobrol ngalor-ngidul. Podcast Boker mengingatkan aku tentang acara ini dan bagaimana penyiar radio yang bagus, bisa membuat aku merasa ikut nongkrong dan tertawa bareng mereka.

Episode yang pas untuk memulai mendengar podcast ini adalah ketika BKR Brothers menginterview Kiki Aulia Ucup, manager Barasuara, tentang pengalamannya mengundang Rhoma Irama untuk Synchronize Fest dan segala keabsurdan dibelakangnya.

Podcast Stand Up Indo – Episode Pandji Pragiwaksono

Stand-up komedi adalah satu kesenian yang tidak aku sangka bisa bertumbuh besar di Indonesia. Aku menemukan Seinfeld, Pryor dan Carlin ketika kuliah dan selama di Surabaya, tidak pernah aku bertemu se-orang pun yang mengenal, let alone suka, dengan gaya berkomedi tunggal seperti ini.

Di tahun 2011, stand-up komedi Indonesia bertumbuh pesat dan salah satu kontributor penting adalah komunitas StandupIndo. Podcast StandupIndo membahas segala macam hal di belakang panggung stand-up komedi. Mulai profil para komika sebelum jadi komika, profil komunitas dan juga pembahasan sisi bisnis dari stand-up komedi itu sendiri.

Satu yang aku suka dari podcast ini adalah cerita cerita bagaimana kesenian ini mengubah hidup banyak komika. Seriusan, aku seringkali terinspirasi mendengar podcast ini daripada Merry Riana. Yang menginspirasi juga adalah, the length some comics take to get their materials. Di satu episode, Rahmet Ababil ikut tawuran hanya untuk cari premis dan menguatkan personanya sebagai komika SMK.

Episode favoritku adalah Pandji Pragiwaksono. Di tahun 2011, Pandji membuat special show stand-up pertama di Indonesia dan aku beruntung ada di dalam Usmar Ismail hall pada event itu. Belum ada komika yang seprolifik Pandji: spesial paling banyak, punya acara standup-rutin setiap minggu dan yang pertama tur di luar negeri. Di episode ini, kita bisa mendengar beberapa strategy yang dilakukan Pandji untuk menjadi top of mind komika.

Seperti mendengarkan HBR Ideacast, banyak hal tentang marketing, branding dan strategy yang aku dapat di episode ini.

Amwave – Episode JRX, Twice Bar dan SID

Amwave membahas berbagai macam aspek skena musik lokal. Serupa dengan podcast indo tetapi untuk konteks yang berbeda. Dengan durasi minimum satu jam, Amwave secara in-depth membahas pelaku, event, brand clothing dan tentu saja, band dan musik yang berpengaruh terhadap musik sidestream di Indonesia.

Episode favorit adalah ketika Bobby (dari podcast Boker) menginterview pundit punk Bali paling kontroversial JRX a.k.a Ari Astina dari Superman Is Dead. Dimulai dari membahas pernikahan JRX, sejarah terbentuknya SID dan bagaimana ups and downs order manggung SID di tahun 2019.

Bias, karena aku bertumbuh besar SMP dan SMA dengan lagu SID. Tapi untuk setiap penikmat musik, Amwave merupakan angin segar untuk yang ingin mengkonsumsi konten seputar musika nusantara semenjak majalah Hai dan Rollingstone kolaps.

How To Develop Loan Product ?

This month marks my 2 years tenure in Amartha. After almost decade of experience in telco industry and straight outta Manchester Business School Innovation studies, in late September 2017 i jumped headfirst into fintech startup world. It was challenging and exciting ride with constant learning every single day of the week.

One of my key learning from leading Amartha’s Business Development team is how to design loan product. Amartha core business is micro-loan for rural women and as bizdev, my task is to explore new loan product opportunities. In this post, i will brain dump my learning in developing loan product for micro-business segment.

Hope its useful!.

Continue reading “How To Develop Loan Product ?”