Sharing Bekerja Vs Berkarya

Seperti sebelumnya, post ini masih tentang sharing session yang aku isi. Dua hari lalu, aku berbagi tentang buku-buku yang aku baca di acara internal sharing Amartha. Ada 3 buku yang aku bahas : Seth Godin – Linchpin, Jeff Gothelf – Forever Employable dan Pandji Pragiwaksono – Indiepreneur.

Tiga buku ini aku pilih karena topiknya serupa yaitu tentang berkarya. Aku membagikan pendapatku soal berkarya, bagaimana mengemas pekerjaan di kantor sebagai sebuah karya dan sharing tentang benefit yang aku dapat dari mengembangkan blog ini.

Lumayan juga yang ikut ternyata. 100an orang join via zoom, tidak hanya dari kantor pusat tetapi juga teman teman di cabang. Mulai dari Medan sampai Kolaka.

Materi presentasiku bisa didapatkan di link di bawah. Aku tambahkan juga beberapa referensi tentang berkarya :

  • Presentasi bisa di lihat disini. Versi mobile-friendly PDF, bisa di download disini.
  • Resensi masing masing buku bisa dilihat di link berikut : Linchpin, Forever Employable, Indiepreneur.
  • Essay menarik dari Li Jin, seorang angel investor. Tentang tren micro-entrepreneurship, unbundling antara kerja-penghasilan dan berbagai produk digital yang mendukung pekarya.
  • Tulisan lain dari Li Jin tentang konsep passion economy, perbedaannya dengan gig economy dan bagaimana pekarya dapat hidup dari karyanya dengan perkembangan tren ini kedepan.

Terima kasih telah membaca. Jika kamu menikmati tulisan ini dan ingin mendapatkan update tentang tulisan terbaru via email, sila isi form dibawah.

Processing…
Success! You're on the list.

Bincang Santai – Ikatan Alumni Sistem Informasi ITS

Hari ini menyenangkan sekali. Baru saja menyelesaikan acara Ikatan Alumni Sistem Informasi ITS. Berawal dari ide mengadakan silaturahmi virtual alumi dengan jurusan, beberapa rekan alumni kemudian mengembangkan ide untuk membuat webinar. Judul yang kita pilih adalah adaptasi kerja masa pandemi. Narasumbernya pun keroyokan, mulai dari yang kerja di pemerintahan, e-commerce dan terakhir aku sendiri membawakan konteks fintech.

Lumayan 100 orang alumni, dosen dan mahasiswa yang hadir dan berpartisipasi. Not bad, mengingat acaranya di hari Sabtu sore. Kudos untuk panitia yang mengadakan : Ika Nurkasanah, Segaf Hussein, Hatta Himawan, Habibah Husna, Yogantara dan Djatmiko Adi.

Materi yang aku sampai kan disesi ini beserta referensi tambahan lain, aku cantumkan dibawah :

Materiku tentang efek pandemi di industri teknologi finansial

Sampai ketemu di acara-acara berikutnya!

Terima kasih telah membaca. Jika kamu menikmati tulisan ini dan ingin mendapatkan update tentang tulisan terbaru via email, sila isi form dibawah.

Processing…
Success! You're on the list.

Hiphop Lokal 2020

Udah lama banget kayanya gak nulis musik. Padahal ada di tagline blog. Jadi di post kali ini , gue akan share beberapa track hiphop lokal yang menemani my struggle and hustle sepanjang pandemi ini.

Buat gue pribadi, track rap lokal itu pas banget buat menemani masa-masa diremehkan, struggling dan menghadapi masa depan yang nggak jelas. Anxiety is on record level in covid times so theres no better times to listen to these music. Gue lupa denger dimana, tapi Tuan 13 pernah ngasih statemen klo musisi rap di Indonesia itu gak ada duitnya. The struggle fuel the music. Dan musik-musik dibawah, beresonansi banget buat gue untuk tetap tegak berdiri di tengah badai pandemi.

So lets go.

Continue reading “Hiphop Lokal 2020”

Resensi #6 – Forever Employable

Resensi adalah ringkasan dan catatan dari buku-buku menarik yang gue baca dalam bentuk slide PDF. Semua edisi resensi bisa dibaca di link berikut.

Di edisi ke 6 kali ini, gue membahas buku dari Jeff Gothelf berjudul Forever Employable. Buku ini berisi langkah-langkah personal branding agar sepanjang perjalanan karir kita, kesempatan bisa datang menghampiri tanpa perlu kita kejar. Relevan sekali menurutku dengan kondisi lapangan pekerjaan yang sedang lesu dan kita mungkin dihadapkan kegalauan tentang peluang kerja di masa depan.

Buku ini membahas perjalanan Jeff, membangun personal branding, berkarya dan berpindah profesi dari karyawan menjadi konsultan UX independen. Di buku ini Jeff membagi lima langkah yang perlu dilakukan agar kesempatan pekerjaan secara konstan datang ke kita.

Buku Forever Employable bisa didapatkan di Amazon atau Book Depository. Referensi lebih lanjut tentang buku ini bisa dilihat di link dibawah :

  • Materi-materi tambahan Forever Employable bisa didapatkan di website pribadinya https://jeffgothelf.com/
  • Video presentasi Jeff tentang Forever Employable bisa diliat di link Youtube berikut
  • Jeff Gothelf bertamu di Podcast Unlearn untuk membicarakan bukunya. Bisa didengarkan di Spotify

Terima kasih telah membaca. Jika kamu menikmati tulisan ini dan ingin mendapatkan update tentang tulisan terbaru via email, sila isi form dibawah.

Processing…
Success! You're on the list.

Pivot Pandemi : Penerbit Buku

Selamat datang kembali di seri Pivot Pandemi edisi ke 4. Ini adalah seri tulisan bagaimana bisnis bertahan menghadapi COVID-19. Post ini adalah hasil brainstorming dengan beberapa teman dari berbagai macam industri. Semua seri Pivot Pandemi bisa dibaca di link berikut.

Gue ngobrol dengan salah seorang teman, general manager penerbitan Jakarta. Semenjak pandemi , penjualan buku nasional terjun bebas hingga setengahnya. Termasuk kantor teman gue ini, which for the rest article, kita sebut saja penerbit 456.

Photo by freddie marriage on Unsplash. Illustrasi toko buku.

Gue akan membahas model bisnis penerbit 456, tantangan yang mereka hadapi di pandemi dan juga ide-ide pivot untuk bikin bisnis penerbitan sustain dan bahkan bertumbuh kedepannya.

Lets go!.

Continue reading “Pivot Pandemi : Penerbit Buku”

Financial Services Through Chat

Out of nowhere, Whatsapp launched payment features in Brazil. Users in Brazil now can send money through chat by linking-in their bank accounts in Whatsapp. The app currently supporting both debit and credit cards of 2 major banks and 1 neobanks : Banco de Brazil, Sicredi and NuBank. They also partnering with Cielo, largest payment operator in Brazil.

Indonesia is on the pipeline. Earlier this month, Facebook alongside Paypal put money in Gopay, solidifying their intent to enter financial services. Gopay wallet might be able to be synced to Whatsapp numbers sometimes soon. In fact, money transfer feature in Gopay already designed like a chat.

Photo by Christian Wiediger on Unsplash. Illustration of chat app.

In my opinion, Whatsapp or chat in general could be a better and more inclusive vehicle to deliver digital financial services. Especially for unbanked population, which are half of the country.

In this article, ill write about the downside of app, opportunity of chat, learnings from other markets and potential use cases. Lets start!

Continue reading “Financial Services Through Chat”

Pivot Pandemi : Penyedia Software Supply Chain

Seri pivot pandemi ini merupakan tulisan bagaimana bisnis bertahan menghadapi COVID-19. Post ini adalah hasil brainstorming dengan beberapa teman dari berbagai macam industri. Semua seri Pivot Pandemi bisa dibaca di link berikut.

Setelah sebelumnya membahas bisnis tradisional, Pivot Pandemi kembali membahas tech startup. Di edisi ketiga, gue ngobrol bareng teman lama dari kuliah, VP startup SaaS untuk manajemen supply chain. For the rest of the article, kita sebut startup ini sebagai Startup 123. Lets go!

Photo by Tiger Lily on Pexels.com. Ilustrasi supply chain.
Continue reading “Pivot Pandemi : Penyedia Software Supply Chain”

Sharing BD dengan HRD Bacot

Baru saja menyelesaikan seminar virtual dengan salah-satu akun influencer HRD di twitter, HRD Bacot lewat sesi BCTalknya. Menyenangkan sekali. Di ikuti oleh 450 orang di Zoom dan Youtube live, audiens paling banyak selama sejarah gue ngisi seminar.

Poster BCTalk

Di post ini akan gue cantumkan semua materi dan referensi. Terima kasih untuk teman-teman yang sudah meluangkan malam minggunya di sesi BCtalk tentang Business Development.

Tentang role Business Development

Tentang mengumpulkan ide

  • Untuk membaca lebih lanjut tentang Design Sprint, bisa dilihat website resmi mereka. Buku Design sprint juga sudah ada versi bahasa indonesianya di Google Play.

Tentang membangun konsep

Tentang membangun kompetensi BD

  • Business Sense
  • Analysis
  • Project Management
    • buku Making Things Happen dari Scott Berkun. Buku ini membahas seluk-beluk manajemen proyek untuk orang yang pekerjaannya bukan project manager
    • buku Shape-up dari Basecamp. Bagaimana memanage delivery dari proses pengembangan software.
  • Communication
    • Format essay IELTS. Bagus untuk mengerti bagaimana struktur sebuah tulisan argumentatif yang baik.
    • Format presentasi konsultan manajemen seperti McKinsey dan BCG menurutku bagus untuk belajar presentasi bisnis. Materi bisa dibaca disini.
    • Kelas public speaking dari Pandji Pragiwaksono

Terima kasih telah membaca artikel ini. Jika kamu menikmati tulisan ini dan ingin mendapatkan update tulisan terbaru, artikel / podcast / video youtube dan juga musik menarik yang aku rekomendasikan, sila subscribe email list dibawah.

Processing…
Success! You're on the list.

Resensi #5 – Linchpin : Are You Indispensable

Resensi edisi ke 5, buku Linchpin dari Seth Godin. Dari semua buku Seth Godin, sebenarnya buku ini menurutku yang paling abstrak dan isinya lebih ke pengembangan diri daripada buku-buku lainnya yang berisi ilmu marketing dan branding. Namun ketika aku baca kembali, isinya relevan sekali dengan pandemi dan ekonomi yang penuh dengan ketidakpastian ini.

Buku Linchpin membahas apa yang bisa kita lakukan untuk menjadi seorang yang indispensable. Individu yang punya value sangat besar di tim, organisasi atau masyarakat sehingga nilai kontribusinya tidak tergantikan. Relevan sekali, terutama untuk yang sedang expand untuk tidak hanya bekerja tapi mulai berkarya.

Buku Linchpin bisa didapatkan di Google Play. Untuk membaca Resensi edisi sebelumnya, klik disini.

Pivot Pandemi : Pabrikan Kecap

Seri tulisan pivot pandemi ini merupakan hasil brainstorming survival menghadapi COVID-19 dengan beberapa teman dari berbagai macam industri. Semua seri Pivot Pandemi bisa dibaca di link berikut.

Setelah di edisi pertama lalu membahas bisnis software house, Pivot Pandemi kali ini gue ngobrol dengan seorang GM sebuah pabrik kecap dengan segmen yang spesifik. Tulisan ini akan membahas model bisnis, dampak COVID-19 ke bisnis dan strategi survive kedepan.

Dan seperti sebelumnya, rekan yang gue interview ini keberatan untuk menyebutkan merek. Oleh karena for the rest of the post, kita sebut saja bisnis pabrikan kecap ini sebagai Kecap DEF.

This image has an empty alt attribute; its file name is pexels-photo-2233729.jpeg
Ilustrasi sate. Photo by samer daboul on Pexels.com

Model Bisnis Kecap DEF

Kecap DEF adalah kecap yang segmen utamanya adalah pedagang sate. Resepya didesain sedemikan rupa untuk memberikan rasa yang lebih “manteb” untuk makanan yang dibakar atau dipanggang. Oleh karena itu, kecap DEF populer di kalangan penjual-penjual sate mulai dari yang keliling hingga restoran. Selain itu pabrikan ini adalah bisnis keluarga yang sudah ada puluhan tahun sehingga kecap DEF menjadi bagian dari resep berbagai restoran sate terkenal di Jabodetabek.

This image has an empty alt attribute; its file name is image-4.png
Business Model Canvas dari Kecap DEF

Secara distribusi, kecap DEF juga tidak tersedia secara luas di channel modern retail seperti hyper, indo dan alfa mart. Mereka lebih mengandalkan channel tradisional seperti distributor pasar dan agen-agen supplier restoran. Dua alasan bisnis untuk ini. Pertama, segmen mereka lebih ke warung daripada perorangan. Kedua, channel tradisional lebih murah dengan komitmen MOQ(minimum order quantity) yang relatif lebih kecil.

Kecap DEF juga tidak mengeluarkan banyak biaya marketing. Tidak banyak pembeli ritel yang mengenal merek DEF ini, dibanding kecap Bango atau ABC misal. Karena memang bukan ritel segmen yang diincar. Marketing budget digunakan untuk insentif distributor atau diskon kepada segmen pembeli eksisting.

Last but not least, DEF juga punya reputasi sebagai social business. Sebagian hasil penjualan dari kecap DEF ini disumbangkan ke orang-orang miskin dan anak yatim. Selain itu, hampir 80% pekerja di pabrik adalah ibu-ibu rumah tangga dari lingkungan sekitar pabrik yang berada di daerah pinggiran Jabodetabek.

Tantangan di Masa Covid-19

Restoran adalah sektor industri dengan dampak paling parah dari pandemi COVID-19 ini selain pariwisata dan penerbangan. Banyak warung dan restoran, yang merupakan konsumen kecap DEF, turun omzet hingga 80% – 90%. Tidak sedikit juga yang harus berhenti berjualan. Demand penjualan kecap DEF ini turun drastis yang berdampak langsung pada berkurangnya revenue dan juga cash-flow

Selain itu, pabrik kecap DEF sudah terlanjur membeli bahan baku kecap selama sebulan kedepan sehingga ada tumpukan bahan baku di gudang yang berpotensi untuk loss. Ditambah lagi supply kecap jadi hasil produksi bulan sebelumnya yang juga perlu untuk dikeluarkan dari gudang untuk mengurangi storage cost.

Opsi Pivot Ke Depan

Ada beberapa langkah yang diambil oleh Kecap DEF untuk bisa bertahan ditengah pandemi ini. Gue tambahkan juga beberapa ide pivot long-term yang menurutku potensial diexplore.

Mengurangi Kapasitas Produksi

Langkah yang pertama dilakukan adalah mengurangi shift kerja di pabrik. Shift produksi yang awalnya tiap hari, kini dikurangi menjadi 3 atau 4 hari seminggu tergantung demand yang masuk. Ini dilakukan untuk menghemat biaya produksi karena pekerja pabrik dibayar harian. Selain itu, pengurangan produksi juga mencegah stok berlebih di gudang karena kecap jadi yang ada tidak bisa terjual secepat biasanya.

Mengajukan Menjadi Vendor untuk Donasi Covid-19

Dampak COVID-19 yang sangat masif membuat bermunculannya inisiatif donasi, baik dari platform online seperti Kitabisa dan Benihbaik hingga donasi dari pemerintah seperti kementrian atau pemerintah daerah. Memanfaatkan stok yang sudah ada, kecap DEF mengajukan diri ke berbagai lembaga atau penggalang dana untuk menjadi salah-satu item donasi dengan harga yang lebih murah.

Margin tipis tapi setidaknya stok berjalan dan cashflow berputar kembali.

Bundling Kecap Menjadi Paket Sembako

Masih terkait dengan yang pertama, beberapa lembaga donasi meminta untuk kecap DEF dibundling menjadi paket sembako untuk memudahkan proses pengiriman. Kecap DEF akhirnya membuat paket dengan membundling bersama beras, minyak dan gula. Paket kemudian ditawarkan ke supplier, agen dan konsumen kecap DEF yang tertarik, baik untuk donasi maupun untuk dijual kembali.

White-labelling Kecap Untuk Supermarket

Sebelum Pandemi, kecap DEF sebenarnya telah membangun pipeline partner untuk menjual kecap secara white label. Beberapa diantaranya adalah rantai supermarket besar yang punya kebutuhan untuk memproduksi merek kecap mereka sendiri. Dengan kondisi produksi yang turun, white-labelling ini menjadi solusi untuk optimalisasi aset pabrik. Bisnis supermarket besar seperti Hypermart, Carrefour dan Alfamidi juga cenderung naik di era pandemi ini. Selain itu, karena ini kontrak B2B, nilai kontrak jelas diawal sehingga revenuenya lebih pasti daripada penjualan retail.

Jual Kapasitas Produksi Pabrik untuk Merek Kecap Lain

Selain white-labelling, kapasitas produksi yang kosong bisa dijual ke pabrikan kecap lain yang lebih besar. Kecap DEF bisa menawarkan kepada kecap-kecap besar seperti ABC atau Bango untuk outsourcing sebagian atau seluruh proses produksi mereka.

Namun ini akan memakan waktu lumayan, karena DEF harus memulai proses memenuhi guidelines, proses dan standard kualitas dari kecap dari merek besar. Sehingga dampak finansial dari strategi ini baru bisa dirasakan 3-6 bulan kedepan.

Eksplorasi Kecap DEF menjadi Brand Direct-to-Consumer (D2C)

Grafis dari CB Insights tentang D2C brands yang mendisrupsi FMCG besar sepert P&G

Direct to consumer brand adalah salah satu tren yang sedang naik di industri digital saat ini. Di Indonesia sendiri, salah satu contoh sukses adalah Lemonilo, brand FMCG yang besar dari penjualan online dan sosial media. East Bali Cashews juga contoh bagus mulai dari online dan berkembang ke kanal retail offline.

Kecap DEF mengincar segmen yang spesifik, ketika bisnis warung sate sedang turun maka demand bisnis keseluruhan turun juga. Untuk membangun resiliensi kedepan terutama setelah ekonomi mulai naik lagi, kecap DEF perlu untuk berinvestasi untuk membuka segmen pelanggan yang baru.

D2C menurutku adalah satu ide menarik yang bisa dieksplore.

Mulai expand ke segmen ritel yang spesifik

Trend masyarakat yang menjadi lebih sering masak dirumah bisa di tap-in. Kecap DEF bisa mulai bangun konten yang relevan (berbagi resep sate ?) dan menunjukkan kelebihan kecap DEF dibanding kecap biasa.

Sisi bisnis sosial kecap DEF juga bisa menjadi pembeda. Segmen konsumen yang socially-conscious bisa ditarget dengan memberikan cerita dan dampak sosial dari kecap DEF ini.

Bundling kecap DEF dengan restoran yang menyediakan menu take-home atau frozen-food

Mulai dari Holycow hingga Sushitei, PSBB membuat bisnis restoran pivot ke paketan ready to cook atau frozen foods. Kecap DEF bisa mengexplore ini dengan melakukan bundling ke menu-menu yang relevan. Misal ketika pembeli memesan menu ayam bakar kecap, maka dibundling dengan 1 botol kecap DEF. Langkah ini menurutku bisa memperkenalkan brand kecap DEF ke segmen end-customer dengan mentarget segmen pembeli dari resto-resto yang sudah cukup terkenal.

Mulai membangun kanal penjualan online

Bisa dimulai dengan memanfaatkan fitur official store dari marketplace unicorn seperti Bukalapak, Shopee atau Tokopedia. Beberapa principal brand FMCG seperti ABC, Unilever dan Nutrifood menjual langsung melalui e-commerce.

Demikian untuk tulisan kali ini. Materi lebih lanjut soal direct-to-consumer brand, bisa dibaca disini :

  1. CB Insights – Direct to Consumer Brands
  2. IAB – Rise of 21st Century Brand Economy

Terima kasih telah membaca. Jika kamu menikmati tulisan ini dan ingin mendapatkan update tentang tulisan terbaru via email, sila isi form dibawah.

Processing…
Success! You're on the list.