Sifat Kontra Intuisi dari Inovasi

Perkembangan eksponensial teknologi informasi dalam satu dekade terakhir menghasilkan kelas konsumen teredukasi dengan ekspektasi yang semakin hari semakin meningkat. Pelaku bisnis, entrepreneur dan bahkan sektor publik dipaksa berinovasi dengan laju yang lebih cepat dan lebih efektif dibanding sebelumnya. Di tahun 1999, The Economist menulis bahwa inovasi menjadi agama baru perindustrian di penghujung abad 20. Organisasi yang inovatif memiliki produktivitas jauh lebih tinggi dibanding yang tidak. Inovasi menjadi cawan suci yang menjanjikan kejayaan ditengah gencarnya kompetisi.

Meningkatnya peran inovasi membuat populernya materi materi terkait. Siapa dari kita yang belum melihat video stay hungry stay foolish ?. Buku bertema inovasi juga kerap menjadi best seller. Yang paling terkenal diantaranya : Innovators Dilemma yang mengenalkan konsep inovasi disruptif. Sejarah inovasi komputasi dalam buku The Innovators dari Walter Issacson dan juga tips memanage kreativitas di Creativity Inc dari Ed Catmull.

us_cover

Salah satu buku tentang inovasi yang menarik buat saya adalah How To Fly A Horse dari Kevin Ashton, pionir dari teknologi internet of things. Buku ini mencoba membantah mitos bahwa inovasi, mencipta dan kreativitas adalah hak istimewa segelintir orang yang dianggap jenius. Kevin mencoba menjelaskan inovasi dari unit yang paling sederhana yaitu kerja keras. Dia juga mencoba mematahkan miskonsepsi bahwa proses inovatif terjadi secara magis, seperti bohlam diatas kepala yang tiba tiba menyala. Miskonsepsi ini terjadi karena beberapa karakteristik dari inovasi bersifat kontra intuisi (counter intuitive) sehingga rentan untuk disalahartikan.

Memahami sifat sifat kontra intuisi ini krusial untuk mengerti bagaimana inovasi dihasilkan dan menghindari kesalahan umum yang terjadi ketika membangun proses inovasi. Continue reading

Beyond ride sharing ban: potential new regulations in Indonesia that may affect startups

The recent controversy of ride sharing apps prohibition has left a bitter taste for Indonesian startup ecosystem. Not only causing a huge uproar in social media, this move sparked immediate response from members of people representative council, former Indonesian VP Boediono up to president Jokowi himself. In less than 24 hour, Transport Minister Ignasius Jonan has been forced to revert this decision due to the amount of negative reaction from the public.

Jakarta-traffic

On one side, the backlash showed that ride sharing apps have started to become an integral part of society especially in Jakarta. A good progress considering how recent the services was introduced in this market (Gojek started in 2010 while GrabTaxi entered Indonesia just last year). On the other side, the controversy highlighted further one of the biggest challenge in this country startup scene : uncertain regulation.

So looking forward, are there any other regulatory development that Indonesian startup founder and investors should be cautious about ? Below are some of my observation. Continue reading

Why Ebook Is Not Disruptive (Yet)

One of my favorite strategy blog Stratechery recently has a great piece on ebooks. Apparently in 2015, the sales of physical books in the United States is still going strong while ebook fall down 10 percent. The market share of ebooks also did not grow very much, still steady at 20% for several years. The trend is even more disconcerting  due to the massive sales decline on ebook reader. Having single purpose device such as Kindle are apparently too cumbersome for general population. It is still too early to pull the verdict, but things are not going well for the state of electronic books.

Source: death to stock photos
Source: death to stock photos

This is very interesting because usually the emergence of the electronic media will disrupt the old establishment of physical ones. Case in point, the introduction of itunes and other digital music platform had brought CD sales to its knees. Disruptive Innovation as famously interpreted by Clayton Christensen. So why does this not happen with ebook ?. In the stratechery piece, there are three factors which held the adoption of ebooks: Price, Experience and Modularization.

Reflecting it to my experience as an avid book reader and the market condition in Indonesia, In this post, I will relate some of this drawback factors discussed in stratechery post to my personal experience. I will discuss some of the reasons which makes ebook worth to try and why physical books will still going to be around for the foreseeable future. Continue reading

Berkontribusi Sebagai Alumni

Selasa minggu kemarin, saya kembali ke kampus untuk menemui dosen wali ketika kuliah dulu yang juga menjabat sebagai wakil dekan FTIF, ibu Mahendrawati. Bersama dengan rekan seangkatan yang juga berprofesi sebagai dosen, kami berdiskusi panjang  mulai dari yang ringan (bergosip) sampai hal serius seperti arah perubahan kurikulum baru di jurusan.

Salah satu poin diskusi yang menarik adalah kontribusi alumni. Bu Mahe berpendapat hubungan yang erat antara alumni dan almamater berpotensi besar untuk meningkatkan kualitas pengajaran di kampus. Sebagai contoh ketika jurusan merancang kurikulum baru, feedback alumni dapat digunakan untuk menimbang relevansi materi kuliah dengan dunia kerja. Selain itu, alumni bisa menjadi rujukan mahasiswa mulai dari sekedar menghubungkan dengan dunia industri (untuk internship, magang dsb) atau sekedar memberikan satu dua tips tentang job-seeking. 

Berkontribusi Sebagai Alumni

Problem yang dihadapi adalah availabilitas alumni. Dengan asumsi mayoritas alumni bekerja di Jakarta, dibutuhkan komitmen yang tidak sedikit baik dari sisi biaya maupun waktu untuk mampir ke ITS.

Menurut saya, salah satu solusi membangun koneksi alumni-almamater ditengah hambatan jarak adalah memberikan beberapa opsi keterlibatan dengan variasi tingkat komitmen. Idealnya memang alumni datang ke kampus dan sharing ke mahasiswa atau diskusi dengan dosen. Tetapi dengan memanfaatkan internet dan sosial media, banyak kontribusi yang bisa diberikan tanpa harus berada di tempat.

Berikut beberapa opsi yang bisa dipakai alumni untuk berkontribusi kembali ke almamaternya. Continue reading

RR#10 – Rekomendasi Komik Indonesia

Pekan lalu, Popcon 2015 diselenggarakan di Assembly Hall JCC Senayan selama tiga hari berturut turut. Popcon adalah sebuah konvensi kreatif yang memamerkan karya karya budaya pop Indonesia. Walaupun ditampilkan juga produk kreatif lainnya, Popcon selalu identik dengan komik. Sebagian besar booth di Popcon berisi showcase komik dari seniman dan studio grafis disertai dengan merchandise seperti stiker, kaos dan juga art book. Untuk yang tertarik dengan komik dan karya grafis lainnya, Popcon adalah acara tahunan keren yang wajib untuk didatangi.

Rekomendasi Komik Lokal_small

Berdasar pengalaman mendatangi acara ini dua tahun berturut turut, Popcon semakin ramai dan  karya karya yang di tampilkan disini semakin meningkat baik dari jumlah maupun kualitas. Meskipun dari sisi industri komik lokal belum sebesar karya kreatif lain seperti musik atau film, beberapa komik lokal mempunyai kualitas gambar dan cerita yang bisa dibandingkan dengan komik mainstream amerika (DC, Marvel, Dark Horse) dan juga manga manga dari Jepang.

Berkaca pada besarnya antusiasme dan meningkatnya karya yang dirilis, Popcon 2015 dapat dilihat sebagai sebuah milestone dimana kedepannya industri komik lokal Indonesia akan semakin tumbuh.

Untuk yang belum familiar dengan karya lokal komikus Indonesia, tidak ada waktu yang lebih baik untuk berkenalan selain sekarang. Dibawah ini adalah komik komik Indonesia berkualitas yang saya rekomendasikan untuk dibaca.

Mari kita mulai dari yang pertama Continue reading

Layanan Seluler Untuk Pembangunan

Tulisan ini sebelumnya dipublikasikan di Selasar.com. Dibawah ini adalah editan terbaru berdasarkan input proofreading dari Atiek Puspa, Agung Hikmat dan Nauval Atmaja. Beberapa minggu ini kami berempat mengadakan kelompok studi kecil kecilan dengan topik M4D untuk mengisi waktu luang dengan tulisan ini sebagai hasilnya. Beberapa tulisan tentang M4D dan Indonesia (kami harap) akan muncul setelahnya. 

Telepon seluler adalah teknologi modern yang paling banyak diserap masyarakat di dunia. Menurut laporan Global Mobile Economy, di akhir tahun 2014 terdapat 3.6 milyar pengguna layanan seluler. Setengah dari populasi dunia mempunyai akses terhadap teknologi ini dan bertumbuh lima kali lipat dibandingkan 10 tahun yang lalu. Untuk negara-negara berkembang, penetrasi layanan berkisar pada 40%, sementara negara-negara maju mencapai dua kali lipat dari penetrasi layanan negara berkembang. Di masa mendatang, pengguna seluler diperkirakan terus bertumbuh mendekati 5 milyar di akhir tahun 2020 dan didominasi oleh Asia Tenggara dan Afrika.

Layanan Seluler Untuk Pembangunan

Layanan seluler memberikan akses komunikasi luas kepada sebagian besar populasi dunia. Seiring dengan perkembangan teknologi, seluler juga membuka deras arus informasi melalui mobile internet kepada masyarakat yang belum terjangkau oleh infrastruktur kabel. Beberapa hal tersebut membuat seluler menjadi pilihan teknologi yang ideal untuk mendorong proses pembangunan bidang sosial, lingkungan, dan ekonomi. Konsep ini disebut dengan Mobile for Development (M4D) atau layanan seluler untuk pembangunan. Continue reading