International Competitiveness in Nanotechnology

One of the class ive enrolled in the second semester is International Competitiveness by Professor Marcella Miozzo. In this course, prof Miozzo discuss how firms, organization and countries achieve international competitiveness / global leadership through innovation. Ive also learned a lot of about strategy and the history of industrialization in developed and newly develop countries in this class.

Nanotech in China
China is one of the countries highlighted in my presentation

For group coursework, i need to present international competitiveness in the case of nanotechnology. The task is very interesting and challenging because prior to this i know nothing about nano tech. After several weeks of digging Scopus papers, reading science magazine and collaborating through Google Slides, me and my team delivered the topic in the class yesterday. We present the history of nanotechnology development, international competitiveness using research indicators also case studies of three leading countries in nanotechnology. Due to over excitement, we overshoot the presentation time by over half an hour however the response was good.

In this post, im embedding the presentation slides along with several highlights from the materials that i referenced. Due to the way we split the work, im putting only the materials related to nanotechnology in the context of China. For the completion of this work, i would like to thank my awesome team mates which coincidentally both of them are Chevening scholars : fellow Indonesians Yoanita Simanjuntak and Pakistani aspiring economist Aisha Aurakzai.

Third world countries, represent!.

Continue reading

Sifat Kontra Intuisi dari Inovasi

Perkembangan eksponensial teknologi informasi dalam satu dekade terakhir menghasilkan kelas konsumen teredukasi dengan ekspektasi yang semakin hari semakin meningkat. Pelaku bisnis, entrepreneur dan bahkan sektor publik dipaksa berinovasi dengan laju yang lebih cepat dan lebih efektif dibanding sebelumnya. Di tahun 1999, The Economist menulis bahwa inovasi menjadi agama baru perindustrian di penghujung abad 20. Organisasi yang inovatif memiliki produktivitas jauh lebih tinggi dibanding yang tidak. Inovasi menjadi cawan suci yang menjanjikan kejayaan ditengah gencarnya kompetisi.

Meningkatnya peran inovasi membuat populernya materi materi terkait. Siapa dari kita yang belum melihat video stay hungry stay foolish ?. Buku bertema inovasi juga kerap menjadi best seller. Yang paling terkenal diantaranya : Innovators Dilemma yang mengenalkan konsep inovasi disruptif. Sejarah inovasi komputasi dalam buku The Innovators dari Walter Issacson dan juga tips memanage kreativitas di Creativity Inc dari Ed Catmull.

us_cover

Salah satu buku tentang inovasi yang menarik buat saya adalah How To Fly A Horse dari Kevin Ashton, pionir dari teknologi internet of things. Buku ini mencoba membantah mitos bahwa inovasi, mencipta dan kreativitas adalah hak istimewa segelintir orang yang dianggap jenius. Kevin mencoba menjelaskan inovasi dari unit yang paling sederhana yaitu kerja keras. Dia juga mencoba mematahkan miskonsepsi bahwa proses inovatif terjadi secara magis, seperti bohlam diatas kepala yang tiba tiba menyala. Miskonsepsi ini terjadi karena beberapa karakteristik dari inovasi bersifat kontra intuisi (counter intuitive) sehingga rentan untuk disalahartikan.

Memahami sifat sifat kontra intuisi ini krusial untuk mengerti bagaimana inovasi dihasilkan dan menghindari kesalahan umum yang terjadi ketika membangun proses inovasi. Continue reading

Basic vs Applied Research

To prepare for semester exam, i wrote several essays on Innovation topics to help me revise. As the exam period already finished, rather than throw it away i might as well post it here. All of the essays can be looked up using ExamEssay tag. Hope it can be useful. 

Research by definition is a creative activity to produce knowledge. By characteristics, research can be divided into two categories : basic and applied.

Research type.png
Characteristics of both type of research

In short, basic research is curiosity driven activity to produce science while applied research is a problem solving activities to come up with new technology.

Classical view on science and technology relationship

In the old fashioned view, science came before technology. Basic research increase the stock of science in the society which in turns becomes the fuel of applied research activities. Technology is an application of science hence basic research need to be prioritized first.

 

classical-view-on-basic-applied-relationship
Relationship model on the classical view

The prominent supporter of this view is inventor, engineer and former head of US Office of Scientific Research and Development  Vannevar Bush. After world war 2, Bush advocated the importance of funding basic research. In his report to the president titled Science The Endless Frontier, Bush argued that basic research increase the nation’s scientific capital, drive technological progress which in turns improve the nation’s competitiveness in world trade.

The entire Vannevar Bush report to the President can be read here Continue reading

Refleksi Satu Semester

Tidak terasa, sudah hampir lima bulan semenjak saya sekeluarga meninggalkan Indonesia dan tinggal di Manchester. Walaupun tentunya ada enak dan tidak enak, secara keseluruhan pengalaman ini terasa menyenangkan. Pada saat tulisan ini dibuat, saya sedang merapel bahan bahan kuliah untuk persiapan ujian. Sebari rehat sejenak, berikut refleksi empat bulan pertama menempuh pendidikan master di Inggris.

IMG_20161114_101726_HDR.jpg
Kelas High Tech Entrepreneurship dari Prof Jonathan Pinkse

Continue reading

Nauval & Atiek

Nauval,

Interaksi pertama kami terjadi di air terjun Coban Rondo di Malang beberapa jam setelah akhir ritual kaderisasi mahasiswa baru. Selama masa tegang ospek, Nauval konsisten menjadi senior dengan antarmuka yang ramah pengguna. Kami belum saling mengenal pada saat itu namun secara subliminal saya melangkah dan bertanya dimana toilet terdekat berada. Nauval menawarkan untuk berjalan bersama dan kami pun mulai saling mengobrol.

Dasar pertemanan kami di tahun tahun setelah itu adalah obrolan software engineering, open source atau berita berita teknologi lainnya. Meskipun almamater kami menyandang kata teknologi di tengahnya, hanya segelintir mahasiswa yang antusias membicarakan perkembangan terbaru di bidang yang kita pelajari setiap hari. Nauval adalah bagian dari minoritas tersebut.

Selain itu kami berdua termasuk mahasiswa yang memaksimalkan utilisasi uang SPP dengan cara, well, tinggal dan tidur di laboratorium pemrograman. Mas Bambang sebagai admin lab mempekerjakan kami berdua dan beberapa mahasiswa tuna wisma lainnya untuk menjadi merbot dan juru kunci dengan imbalan jaket laboratorium.

Keniscayaan bahwa saya dan Nauval akan selalu berada di lab di malah hari juga ternyata membawa keuntungan finansial.

Beberapa kali kami diajak untuk terlibat proyek pemrograman uang jajan. Salah satu yang saya ingat adalah website korporat untuk operator telekomunikasi plat merah. Semalam suntuk kami mengutak atik kode dan desain menggunakan Joomla kemudian di pagi berikutnya dilanjut dengan presentasi hasil kerja didepan para manajer. Tentu saja sesuai dengan kultur dan kredo mahasiswa ITS, mandi dan tidur adalah opsional. Satu setengah juta untuk kerja semalam. Tidak buruk untuk dua tuna wisma fakir bandwidth berkedok asisten lab.

whatsapp-image-2016-12-17-at-14-08-35

Nauval meninggalkan kampus setahun lebih dahulu dan kami tidak pernah bertemu lagi untuk waktu yang cukup lama.

Atiek,

Pertemanan kami bermula oleh sebuah perjalanan. Di tahun 2011, saya tinggal dan bekerja di Kuala Lumpur. Agung, room mate dan juga kompratriot sekantor, suatu hari mengajak untuk backpacking ke Chennai, India. Agung mengajak seorang temannya yang lain, perempuan berkerudung yang ketika itu sedang menempuh studi S2. Mereka berdua bertujuan untuk mempresentasikan paper di sebuah seminar. Sementara saya turut serta karena tidak punya agenda lebih baik untuk menghabiskan akhir pekan. Yang kemudian terjadi  adalah kejadian absurd demi kejadian absurd yang lain.

kik atiek agung.jpg

Sekembalinya ke Indonesia, Atiek kemudian mengajak saya dan beberapa teman yang lain untuk nongkrong di kantor Indonesia Mengajar. Berawal dari ngobrol ngobrol, berbagai macam kegiatan kerelawanan lahir. Mulai dari  professional volunteer program yang kemudian menjadi kelas inspirasi, bergulir dari satu kota ke kota yang lain. Atiek menjadi bagian penting dari pergerakan ini dan tidak jarang juga menjadi koordinator.

Indonesia Mengajar membuat saya sering bekerja bersama Atiek. Bukan tim yang ideal sebenarnya karena setiap kali kami terlibat dalam rapat, atmosfir serius hanya bisa bertahan 15 menit pertama saja. Menit menit setelah itu hampir pasti akan terisi dengan joke receh, plesetan dan hal hal aneh lainnya.

Selain menambah repertoir joke remah remah, berteman dengan Atiek membuat saya belajar tentang hal yang tidak saya duga sebelumnyaAtiek bekerja di lembaga pengembangan internasional dan seringkali melakukan implementasi proyek energi terbarukan di daerah terpencil di Indonesia. Dari Atiek, saya belajar tentang permasalahan energi di Indonesia, isu isu development dan hal hal sustainability yang lain. Ini menarik karena topik ini semacam antitesis dari profesi saya yang sangat korporat (menyokong pemilik kapital untuk membuat keputusan berbasis profit ). Mendengar cerita cerita Atiek juga memperkaya perspektif saya tentang betapa beragamnya Indonesia dan permasalahan permasalahan yang dia temui dalam perjalanannya.

Nauval dan Atiek,

Suatu hari saya dan istri datang ke sebuah acara sharing knowledge tentang implementasi energi terbarukan karena Atiek menjadi pembicara disitu. Ketika Atiek  sedang presentasi, istri saya memuji betapa pintar dan cantiknya atiek (tiek, kalimat ini berbayar. Tunggu invoice di email). Kemudian bertanya apakah saya mengenal pria jomblo rajin sholat dari keluarga baik baik dengan intelejensia yang setara.

Nama Nauval muncul tetapi yang dimaksud sedang berada di Skotlandia untuk menyelesaikan studi S2.

Anehnya, di Scotland, Nauval satu rumah dengan Agung. He became a room mate of my room mate.

Agung kembali ke Indonesia lebih dulu dan beberapa kali kami membicarakan kebetulan aneh ini. Di salah satu sesi obrolan sepulang kantor kita, ide mempertemukan atiek dan nauval muncul secara natural. Through peculiar concidence, my friend and agung’s friend apparently become our mutual friends. Diantara saya, agung, atiek dan nauval hanya atiek dan nauval saja yang belum pernah berinteraksi. Butuh waktu yang cukup lama tetapi akhirnya kami berempat bertemu dan berada di satu tempat yang sama tidak lama setealh Nauval kembali ke Indonesia.

Yang selanjutnya terjadi adalah gravitasi. Beberapa kali saya mendengar atiek dan nauval terlihat datang berdua di acara acara Indonesia Mengajar. Selang beberapa lama, undangan datang dan kemudian akhir pekan kemarin, Agung mengirimkan foto ini di grup.

WhatsApp Image 2016-12-23 at 07.24.06.jpeg

I was so happy and sad at the same time. Saya tidak bisa hadir ketika kedua teman baik yang saya temui fase kehidupan yang berbeda, mengucap janji didepan penghulu untuk menjadi suami istri.

Cerita mereka berdua juga mengingatkan saya akan adagium klasik tuhan tahu tapi menunggu. Di kondominium Orion Kuala Lumpur, tempat dimana saya dan agung pernah tinggal, atiek dan nauval pernah berada di tempat yang sama namun dengan waktu yang berbeda. Mereka berdua baru bertemu tidak kurang dari lima tahun setelah itu. Memang sih kalau sudah jodoh, pastinya gak akan kemana…indra kemana (ha!).

Oh well,

Selamat membuka lembaran dalam fase hidup yang baru Tiek, Val. Sampai ketemu tahun depan dan semoga ketika kita bertemu kembali, Ghazi bisa berkenalan dengan teman bermainnya yang baru.

Biological vs Chemical: A Study Case on Pest Control Lock-in in Israel Citrus Fruit Industry

This an academic essay i did for Innovation and Knowledge Economy lecture by professor Andrew McMeekin. The task is to demonstrate understanding on technological lock-in concept using any chosen topic.  This topic was a little bit random and way out of my forte but i guess the point of taking masters degree is stretch yourself so far beyond the comfort zone. . 

In a paper called Sprayed to Death: Path Dependence, Lock-In and Pest Control Strategies, economic researcher Robin Cowan and Phillip Gunby chronicled how certain pest control strategy dominate the market using increasing returns and path dependency (Cowan & Gunby, 1996). Two study case were used: Israel citrus fruit industry and cotton industry in United States. The Israel case in particular is very interesting because within the span of nearly 60 years, two pest control technologies were competing and each have achieved lock-in in a different period.

citrus-farm
Oranges, one of the most prominent citrus fruit. Image courtesy of ulehsustainability.com

This essay attempt to further explore multiple lock in occurrence involving two different pest control method (Integrated Pest Management and Chemical Control) in the case of Israel citrus fruit industry from 1940s to 1970s.  It uses historical observation and theoretical results to explain how these multiple lock-ins started, how contingent events influence the competition, what are the increasing returns for each technology and what escape factors contributed in breaking the lock-ins. Continue reading

Bapak’s Notes : Selamat Ulang Tahun Ibu

Apa kabar Ghaz ?

Its been quite a while since the last time i write for you and son, let me tell you how it has been hell of a ride. First thing first, we are now living in Manchester Ghaz! can you believe that ? sometimes bapak still couldnt fathom this fact.

As a child who grew up in the suburbs of Sidoarjo, going outside our country was a far fetch let alone living there Ghaz. Bapak used to play near Juanda airport and i was always wondering what lies behind the departure door.

But enough about that, lets talk about the woman responsible for our well being and happiness while we embark on this journey : Ibu.

dsc00695

Did you know Ghaz that Bapak actually was afraid of the idea of pursuing Master’s degree ? I used to think since Bapak has been having good career with good wages and benefits, why risk all that for going back to university again ? after all, theres no guarantee when Bapak will have better career after having the degree.

It was Ibu who convince me that i can always go back to professional life again but Bapak might miss this lifetime chance to study abroad if i didnt pursue it now. Bapak is nearly in my 30’s now, you are still very young and we dont have any long term financial commitment yet. We dont have any car nor house nor debt hence we as a family have the flexibility to just pack our bags and go!. And again this is also because of Ibu. She save our money and ensure me not to settle in just yet because Ibu believe Bapak might get a chance for scholarship.

See Ghaz ? even I dont put that much confidence in myself.

Did you know Ghaz since we moved to this far and foreign land, Ibu become full time housewife ? When Bapak is going to class, you are with Ibu 24/7. She cook for both of us, bath you and ensuring you grow up healthy and happy. She even taking you out for baby class where you can learn about colors, music and other educational stuff. She done it all by herself, taking you out on a stroller, boarding a Stagecoach bus, sometimes in a windy and cold weather,  isnt it amazing Ghaz ?.

Just before we moved here, Ibu was promoted in her job. To leave all that and committed herself to be mother and wife, both of us owe her big time Ghaz so remember this as you grow up (and please remind Bapak too hehe).

Last week, Ibu had her birthday. So lets give out one big hug for our hero Ghaz : Selamat Ulang Tahun Ibu, Bapak and Ghazi love you to the supermoon and back. We wont be what we are today if not because of you.

Love you again!