Pivot Pandemi : Penginapan

Selamat datang kembali di seri Pivot Pandemi edisi ke 5. Ini adalah seri tulisan bagaimana bisnis bertahan menghadapi COVID-19. Post ini adalah hasil brainstorming dengan beberapa teman dari berbagai macam industri. Semua seri Pivot Pandemi bisa dibaca di link berikut.

Hari ini gue menulis salah satu bisnis yang dampaknya paling signifkan di pandemi tahun ini : hotel dan penginapan. Salah satu teman kuliah, merintis bisnis penginapan di kota Semarang. Di bulan pertama pandemi menyerang, revenue hilang sama sekali, nol. Temen gue dikejar waktu harus melakukan pivot, agar dapur keluarga dan karyawannya tetap bisa ngebul.

For the rest of the article, bisnis ini akan gue sebut sebagai Rumah 789.

Photo by Jason Briscoe on Unsplash

Pivot Pandemi kali ini akan membahas bagaimana Rumah 789 bertahan. Mulai dari pivot servis tambahan menjadi produk utama, memanfaatkan aset eksisting untuk bisnis baru dan juga bagaimana owner Rumah 789 mengkapitalisasi skillnya untuk menambah penghasilan.

Lets go!

Model Bisnis Rumah 789

Rumah 789 adalah penginapan bed and breakfast yang berada di pinggiran kota Semarang. Mereka menawarkan tempat menginap ala backpacker yang terjangkau tapi tetap homy. Dua tipe kamar yang disediakan rumah 789 : kamar sendiri dan keluarga. Harga pun hanya 100 dan 300 ribuan untuk masing-masing tipe. Mayoritas tamu mereka di tahun 2019 adalah anak-anak muda Jakarta yang sedang liburan. Menyusul kemudian adalah keluarga lalu terakhir adalah turis asing.

Model bisnis rumah 789

Tanah dan properti yang digunakan Rumah 789 sebenarnya adalah warisan keluarga. Sebelumnya di gunakan untuk kos-kosan mahasiswa karena lokasi dekat dengan beberapa universitas di Semarang. Selama 5 tahun terakhir, kota Semarang mengalami pengembangan infrastruktur, tata kota dan pariwisata yang mengakibatkan kenaikan signifikan turis domestik dan internasional. Teman gue kemudian melihat ada peluang untuk merombak kos-kosan keluarga ini menjadi hostel backpacker.

Sumber revenue satu-satunya dari Rumah 789 adalah dari kamar. Untuk sarapan, mereka hanya menyediakan roti, gorengan dan jajanan pasar saja. Namun di awal tahun, teman gue berencana untuk melakukan ekspansi lantai sekaligus membuat dapur. Sehingga potensi revenue kedepan bisa datang juga dari makanan.

Channel distribusi utama mereka adalah situs online travel agent (OTA) seperti Traveloka untuk dalam negeri kemudian Booking dan Agoda untuk luar negeri. Hotel 789 juga mengandalkan situs review TripAdvisor agar calon turis Semarang bisa menemukan mereka.

Rumah 789 mengandalkan Instagram sebagai kanal marketing utama. Owner Rumah 789 rajin untuk melakukan content marketing seputar Semarang di akun instagram mereka. Budget untuk iklan juga di investasikan di Instagram Ads. Followers masih sekitar 2ribuan tapi kalau dilihat sekilas, engagement per postnya lumayan.

Tantangan di Masa Covid-19

Rumah 789 menghentikan booking baru setelah pemerintah mengumumkan PSBB di bulan Maret. Tiga bulan setelahnya, Rumah 789 tidak ada pemasukan sama sekali. Mereka mulai membuka kembali pemesanan ketika ramdhan tetapi tamu baru mulai datang setelah lebaran. Tentu saja jumlah tamu masih di level yang jauh dibawah dibanding sebelum pandemi.

Dari segi pengeluaran, Rumah 789 relatif aman karena properti yang ditempati adalah milik sendiri sehingga tidak harus membayar sewa. Karyawan hanya ada 2 dan mereka juga tinggal di Rumah 789. Cost di luar itu lebih ke tagihan listrik, air dan internet Ketika 3 bulan berjalan tidak ada revenue, Owner 789 masih bisa membiayai operational cost dari dana cadangan yang masih ada.

Tantangan terbesar ke depan adalah ketidakpastian kapan masyarakat mulai bepergian kembali, Baik untuk wisata maupun bisnis. Saat tulisan ini ditulis, Jawa Tengah menempati posisi ke 3 nasional untuk jumlah kasus. Kota Semarang sendiri ada di puncak klasemen untuk Jawa Tengah. Bisnis perhotelan di Semarang sepertinya akan butuh waktu tidak sebentar untuk bangkit.

Rumah 789 harus mencari model bisnis baru jika ingin bertahan sampai recovery terjadi.

Peluang Pivot Ke Depan

Berikut opsi-opsi pivot yang dipertimbangkan oleh owner Rumah 789. Aku juga mengeksplorasi juga kemungkinan solusi dengan berbagai referensi tambahan.

Berjualan Makanan Jadi

Rencana Rumah 789 sebelumnya untuk merenovasi bangunan, langsung diubah untuk menambah dapur terlebih dahulu. Sebari dapur dibangun, owner rumah 789 merintis untuk berjualan makanan jadi. Tim Rumah 789 mulai bereksperimen dengan membuat beberapa makanan kemasan kemudian di jual melalui instagram.

Inilah 3 Mesin yang Dipastikan Bakal Bikin Kemasan UKM Naik Kelas
Illustrasi makanan kemasan yang di explore Rumah 789. Gambar dari bisnisukm.com.

Dari ekesperimen tersebut yang paling laku ternyata adalah kering kentang. Oleh karena itu, makanan ini kemudian di jadikan sub-brand Rumah 789 dengan nama Makan 789. Packaging dikerjakan dengan serius, menggunakan warna senada dengan Rumah 789 sehingga yang familiar bisa melihat hubungan kedua produk ini. Melalui promosi konsisten di sosial media, Makan 789 bisa mendapatkan revenue yang konstan.

Makanan yang seharusnya layanan tambahan (auxilliary) menjadi sumber revenue utama Rumah 789 utama saat ini.

Memanfaatkan Dapur Untuk Layanan Katering

Dapur Makan 789 tidak hanya dipergunakan untuk memproduksi produk mereka sendiri. Karena banyak juga yang banting setir untuk menjual makanan, ada beberapa request dari teman-teman sesama pengusaha untuk white labelling makanan. Dapur Makan 789 pun memproduksi kering kentang tidak hanya untuk sendiri tetapi juga kemasan curah untuk

White labelling seperti ini sebenarnya profit margin per unitnya lebih sedikit, tetapi Makan 789 bisa membuat minimum order (e.g minimum 3 atau 5 kilogram) sehingga revenue per ordernya lumayan. Keuntungan lain dari order seperti ini adalah revenue yang lebih pasti di depan, tidak tergantung kepada demand.

Menyediakan Paket WFH

Rumah 789 juga dapat memanfaatkan ruangan-ruangan hotelnya yang kosong untuk menjadi tempat bekerja. Segmen yang bisa diincar adalah pekerja kantoran di Semarang tidak bisa fokus dirumah, sehingga membutuhkan tempat kerja dengan koneksi internet yang cepat dan reliable.

Rate yang ditawarkan bisa lebih murah dan jam pemakaian dibatasi sampai jam 6 misal. Untuk returning customer, bisa juga ditawarkan paket seminggu, 2 minggu atau sebulan. Paket seperti ini berguna untuk menjaga cashflow karena ada guaranteed revenue yang dibayar customer didepan.

Menjual Webinar tentang Entrepreneurship

Owner Rumah 789 juga membagikan ilmunya dalam mengembangkan bisnis melalui berbagai webinar. Setelah beberapa webinar gratisan, ternyata ada minat dari peserta untuk diskusi privat. Oleh karena itu, temen gue ini pun menawarkan untuk konsultasi berbayar. Dia menjawab pertanyaan, membagikan pengalaman dan juga membantu konsultasi calon-calon pengusaha yang ingin memulai bisnis. Karena temen gue ini aktif di komunitas entrepreneur lokal, banyak peserta berbayar yang datang dari referral anggota komunitas ini.

Memonetisasi kemampuan diri seperti ini menjadi salah opsi cepat untuk mendapatkan uang tambahan. Gue menulis lebih dalam soal ini di post Passion Economy.

Kesimpulan

Di bulan Mei lalu, McKinsey mengeluarkan report yang membahas bagaimana industri penerbangan dan hotel recover di Wuhan, China. Salah satu point menarik dari report ini, hotel ekonomi mengalami recovery bisnis yang paling cepat dibandingkan hotel mewah. Penyebabnya adalah segmen pertama yang mulai melalukan travel duluan adalah anak-anak muda sehingga budget mereka terbatas. Selain itu, segmen kelas menengah banyak yang pendapatannya berkurang. Sehingga mereka tetap liburan tapi dengan budget hemat, tidur di hotel butik lokal yang terjangkau tapi tetap nyaman.

Meskipun ujung krisis belum terlihat tapi Rumah 789 punya peluang bagus untuk survive dan menang. Pengeluaran relatif kecil, sumber revenue baru mulai berjalan dan value proposition sebagai hotel backpacker yang instagrammable menjadi daya tarik ketika orang-orang mulai berani untuk liburan lagi.

Sekian untuk Pivot Pandemi kali ini. Referensi tambahan bisa dibaca di list berikut :

Terima kasih telah membaca. Jika kamu menikmati tulisan ini dan ingin mendapatkan update tentang tulisan terbaru via email, sila isi form dibawah.

Processing…
Success! You’re on the list.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.