Pivot Pandemi : Software House

Di masa WFH, aku beberapa kali ngobrol virtual dengan teman-teman untuk membahas kantor atau usaha masing-masing. Mumpung ramadhan, silaturahmi sekaligus berbagi ide bagaimana survive di kondisi paceklik sekarang.

Dari catatan-catatan obrolan ini, aku membuat seri tulisan berjudul Pivot Pandemi. Terinspirasi dari seri Zoom Apocalypse – Cerahati, di sini aku membagikan catatan brainstorming tentang tantangan yang di hadapi dan ide-ide apa yang akan dieksplorasi supaya bisa survive jika kondisi di depan tidak membaik juga.

Ilustrasi Software House. Photo by Hack Capital on Unsplash

Tulisan pertama ini akan membahas tentang bisnis software house atau jasa konsultan pembuatan aplikasi. Ketika kuliah S1 di ITS Surabaya, banyak teman seangkatanku merintis usaha software house. Kebanyakan memulai dari kerja sampingan di kuliah yang kemudian diseriusi setelah lulus.

Di edisi ini aku mengobrol dengan seorang founder sebuah software house di Surabaya. Karena beliau meminta untuk disamarkan saja nama usahanya, maka di artikel ini kita sebut bisnis ini dengan Software House XYZ.

Model Bisnis Software House XYZ

XYZ adalah software house yang fokus untuk mengerjakan sistem informasi dan aplikasi e-government. Segmen customer B2B XYZ adalah instansi pemerintahan yang membutuhkan digitalisasi proses internal seperti absen, pengadaan dan surat tugas. XYZ mengembangkan design khusus sistem informasi untuk berbagai instansi pemerintahan sebagai produk setengah jadi. Sehingga ketika ada project masuk, XYZ melakukan implementasi dengan cepat karena kebanyakan instansi pemerintah punya proses yang mirip sehingga minim kustomisasi.

Ilustrasi model bisnis software house XYZ

Karena XYZ mengambil projek B2B pemerintah, tiap proyek mempunyai siklus pembayaran yang lumayan lama. Ada proyek dibayar tiap quarter, semester atau bahkan di akhir tahun. Oleh karena itu XYZ diawal tahun selalu menyiapkan idle cash flow untuk operasional setidaknya 6-7 bulan ke depan untuk mengantisipasi invoice-invoice yang macet.

XYZ berbasis di Surabaya, timnya pun lumayan ramping, kurang dari 50 orang. XYZ pun mempunyai asset yang minim karena produk mereka hanya software. Oleh karena itu, biaya operasional XYZ sebenarnya rendah.

Tantangan di Masa Covid-19

Sebelumnya aku menduga bahwa bisnis XYZ termasuk yang cukup aman, karena customernya pemerintah. Tetapai dalam diskusi kita, ternyata bisnis XYZ kedepan menghadapi tantangan berat juga.

Pariwisata, hotel dan restoran merupakan penyumbang pajak mayoritas untuk beberapa pemerintah daerah yang menjadi klien XYZ. Ketika pandemi dimulai, ketiga industri ini berhenti sehingga penerimaan daerah pun turun. Oleh karena, mayoritas project XYZ di beberapa instansi ditunda dulu.

Selain itu pemerintah daerah baik di tingkat propinsi, kabupaten atau kota mulai realokasi dana untuk bantuan masyarakat. Sehingga jika pos anggaran APBD yang seharusnya untuk pengembangan aplikasi di re-alokasi, maka proyek tersebut sudah pasti batal sampai tahun anggaran berikutnya.

Tantangan ini membuat software house XYZ harus merevisi rencana di 2020. Karena kemungkinan terburuknya, tidak akan ada proyek baru dari instansi pemerintah sampai akhir tahun.

Opsi Pivot Ke Depan

Supaya tetap survive, berikut beberapa ide yang aku diskusikan bersama founder software house XYZ ini.

Intensifikasi Proyek Maintenance di Customer Existing

XYZ masih ada proyek maintenance system dari implementasi proyek sebelumnya. Maintenance ini mencakup trouble shooting, quick fix jika ada bug dan monitoring performa server. Kontraknya biasanya short term, nilainya tidak terlalu besar tetapi bisa dibayarkan setiap bulan. Proyek proyek maintenance ini menjadi penting sekali untuk menjaga cash-flow karena relatif mudah untuk diapprove oleh klien-klien existing dan siklus pembayarannya cepat.

Expand ke customer segmen yang baru : BUMN

Di awal tahun sebenarnya XYZ sudah mulai ekpansi segmen ke BUMN. Beberapa sistem informasi yang dibuat untuk instansi pemerintah ternyata ada kemiripan dengan kebutuhan dari beberapa BUMN. Sehingga XYZ mulai menjajaki beberapa peluang proyek untuk masuk ke segmen ini.

Segmen BUMN berpotensi memberikan nilai proyek lebih besar. Selain itu, siklus pembayarannya relatif lebih cepat dari klien pemerintah sehingga lebih cashflow friendly.

Namun karena ini adalah segmen baru, XYZ perlu waktu dan usaha untuk membangun aset. Seperti menjajaki koneksi, menavigasi proses pengadaan hingga mencari use-case yang potensial untuk ditawarkan solusi. Selain itu dari sisi pengembangan, XYZ tidak bisa serta merta menggunakan produk eksisting. Sehingga ketika berhasil mendapatkan proyek, XYZ perlu waktu development yang lebih lama untuk mengerjakan aplikasi di segment ini.

Mencari ide produk untuk B2C / SaaS

Karena keran proyek baru sedang seret, resource pekerja software tiba-tiba lowong. Ide untuk mengembangkan aplikasi atau layanan langsung ke customer pun diexplorasi juga. Mungkin bentuknya akan seperti layanan Saas atau bahkan yang sederhana seperti jasa pembuatan website atau aplikasi ad-hoc.

Namun ini masih perlu di pikirkan feasibilitynya kedepan. Karena XYZ tidak mempunyai resource untuk customer service, jika membuka produk untuk retail, orang yang dibutukan untuk mensupport project tidak sebanding dengan nilai projectnya.

Menjadi outsourcing development untuk startup / software house lain

Resource software engineer yang sedang lowong bisa juga dimanfaatkan untuk layanan outsourcing development untuk startup / sofware house lain. XYZ yang berlokasi di Surabay, dengan rate gaji yang lebih rendah dari ibu kota memungkinkan untuk jadi pilihan outsourcing untuk startup / perusahaan di Jakarta. Terlebih lagi di masa seperti ini, bisnis sedang mencari segala cara untuk mengurangi opex dan menghindari capex. Pivot ini bisa dilakukan dengan relatif cepat dan tidak perlu banyak penyesuaian dari sisi kapabilitas dan aset.

Tantangannya adalah mencari target segmen yang tepat. Segmen yang mau membayar untuk layananini adalah startup / korporat yang sedang ada project dan tidak ada capacity untuk mengerjakan. Di ekonomi yang melambat ini tentunya tidak banyak.

Terima kasih telah membaca. Jika kamu menikmati tulisan ini dan ingin mendapatkan update tentang tulisan terbaru via email, sila isi form dibawah.

Processing…
Success! You're on the list.

2 thoughts on “Pivot Pandemi : Software House

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.