Mengapa saat ini di Indonesia, startup fintech lebih banyak dibanding startup lain

Ini sebenarnya adalah thread Quora yang saya jawab beberapa waktu lalu Karena responsnya cukup bagus, saya menambahkan beberapa materi dan memposting ulang disini.

Platform Quora ini cukup menyenangkan dan saya aktif disana. Cek kesini 
untuk melihat semua jawaban yang saya tulis.

Image result for fintech indonesia
Lanskap fintech di Indonesia. Gambar dari Convergence Ventures

Menurut saya, ada beberapa faktor yang menyebabkan teknologi finansial (fintech) menjadi sektor hangat dan punya potensi yang besar sekali kedepan untuk Indonesia.

Populasi nirbank yang masif

Pengguna layanan perbankan konvensional masih minoritas di Indonesia. Dari 250 juta populasi, hanya sekitar 30–40 persen saja yang mempunyai akun bank [1]. Kurang lebih seratus delapan puluh juta orang di Indonesia belum tersentuh oleh layanan perbankan. Indonesia menempati posisi pertama di Asia Pasifik dan ketiga di dunia untuk populasi nirbank.

Detail presentase populasi nirbank di Dunia

Ada 3 faktor penghambat utama yang menyebabkan masifnya popukasi nirbank ini [2]

  1. Ketidak-tahuan akan manfaat layanan perbankan itu sendiri (Awareness)
  2. Layanan perbankan konvensional yang membutuhkan banyak dokumen, ribet dan mahal (Inconvenience)
  3. Tidak adanya cabang atau perwakilan bank yang bisa dijangkau terutama untuk masyarakat rural dan yang tinggal di luar pulau (Access)

Penyaluran kredit perbankan yang asimetris

Nilai dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia mayoritas di kontribusikan oleh usaha kecil menengah dan mikro (UMKM)[3] . UMKM berkontribusi 90 persen terhadap total jumlah tenaga kerja dan 60 persen terhadap total PDB negara [4] .

Meskipun begitu, dari total 5 ribu trilyun rupiah pembiayaan yang dikeluarkan oleh industri perbankan Indonesia di kuartal 1 2017, hanya 20 persen saja yang disalurkan ke UKM. Untuk segmen mikro, persentasenya lebih mengenaskan lagi, hanya empat persen saja.

Selebihnya kredit tersebut di serap oleh sektor komersial (korporasi dan perusahaan besar lainnya).

Cuplikan gambar dari report KPMG – Finance In Indonesia

Walaupun punya nilai ekonomi yang besar, sektor UMKM seperti tidak ditarget secara serius oleh industri perbankan konvensional. Ketiadaan pencatatan finansial yang lazim terjadi di UMKM menjadi penghalang terbesar sektor ini dalam mendapatkan kredit

Yang menarik dari report KPMG juga, 70 persen kredit disalurkan hanya di Pulau Jawa saja.

Dapat disimpulkan, Bank-bank di Indonesia bertarung mati-matian di lautan merah kredit komersial, personal dan korporasi bernilai besar di Pulau Jawa. Sementara lautan biru kredit UMKM dan non-Jawa masih sedikit sekali yang bermain.

Penetrasi internet dan ponsel pintar yang terus meningkat

Dengan penetrasi yang melewati 100% populasi, telepon seluler adalah produk teknologi paling inklusif di Indonesia. Hampir seluruh lapisan masyarakat dapat dijangkau menggunakan teknologi ini. Kemudian seiring dengan semakin murahnya harga handphone android dan paket internet, pelan tapi pasti pengguna ponsel terkonversi menjadi pengguna teknologi yang canggih yaitu smartphone. Dari total semua pengguna ponsel, penetrasi smartphone sudah mencapai setengah [5] . Ditambah lagi, dalam 5 tahun terakhir, pengguna internet naik lebih dari 2 kali lipat.

Grafik dari survey APJII

Smartphone dan internet menjadi platform krusial yang memungkinkan layanan finansial dapat menjangkau lebih banyak orang Indonesia dengan lebih mudah dan murah. Contoh paling gampang, layanan perbankan digital seperti Jenius memungkinkan pengguna untuk membuat rekening tabungan baru dengan hanya mendownload aplikasi tanpa harus datang dan mengisi form.


Kesimpulannya, yang menjadi faktor fintech menjadi hype saat ini adalah potensi pasar yang besar dengan status quo yang rentan untuk terdisrupsi dengan teknologi digital. Seperti layaknya E-commerce di tahun 2011 – 2012 dan ride sharing 2–3 tahun setelah itu.

Jika tertarik, saya menulis lebih lanjut tentang tantangan yang dihadapi startup dalam menyasar populasi nirbank di artikel dibawah :

Three Challenges Startup Faced in Serving Indonesia’s Unbanked Population

Catatan Kaki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s