Pelajaran dari Bung Hatta

Di mataku, kisah hidup Bung Hatta adalah contoh pilihan pilihan hidup yang tidak logis.

Kontras dengan gelapnya Indonesia masa penjajahan, Muhammad Athar alias Hatta lahir di keluarga saudagar muslim kaya raya di Payakumbuh. Pada waktu itu,  beliau mendapatkan akses pendidikan di sekolah unggulan seperti layaknya anak yang lahir di keluarga menengah Jakarta zaman sekarang. Diberi kesempatan oleh kakeknya untuk menimba ilmu agama di Al Azhar Mesir, Bung Hatta memilih untuk pergi ke tanah Onderdrukker (penjajah) monarki Wilhelmina. 11 tahun beliau mengejar gelar doktor sebelum akhirnya naik diatas  Rotterdamse Lloyd , mengangkut 12 koper koleksi bukunya dan kembali ke tanah air.

Muhammad Athar
Muhammad Athar

 

Berbeda dengan mayoritas pahlawan yang menghiasi ruang kelas sekolah kita dulu seperti Thomas Matualessy , Cut Nyak Dien atau Jendral Soedirman sekalipun. Sepanjang hidupnya, beliau diberi kemewahan dengan pilihan pilihan untuk terus hidup nyaman.

Tetapi Bung Hatta tidak pernah mengambil pilihan tersebut.

Beliau berhimpun dengan  gerombolan musuh kerajaan seperti  Douwes Dekker, Cipto Mangunkusumo dan Soewardi Suryaningrat di tengah godaan untuk membaca buku ditemani coklat hangat di mess kampus Erasmus Rotterdam. Sekembalinya ke Indonesia, menolak tawaran untuk menjadi sekertaris direksi di perusahaan dagang Maastrapij milik pamannya untuk fokus di pergerakan kemerdekaan. Memilih untuk dibuang ke Boven Digoel dan bertarung nasib dengan nyamuk malaria daripada menerima tawaran gaji 750 gulden perbulan dengan bekerja di pemerintah Belanda.

Bertentangan dengan teorema pop ekonomi behavioural dari Gladwell, Ariely dan Levitt, Bung Hatta memilih pilihan tidak logis yang minus insentif untuk berjuang.

Di sepanjang perjalananku menjadi tamu permanen di Jalan Galuh 2 no 4, aku bertemu dengan individu individu yang sama tidak logisnya dengan beliau.

Pengajar muda seperti Adhi, Yunita, Inay,Koko, Dedi, Gatya, Cantika yang memilih untuk mengajar setahun di ujung pelosok negeri ini padahal mereka bisa bekerja di perusahaan besar ditengah kenyamanan Jakarta. Penghuni tetap kantor IM seperti Bu Evi, Pak Hikmat, Dikong, Petra,  Jeanny yang rela kerja non-stop dari matahari terbit sampai tengah malam (sabtu-minggu pun juga harus jaga booth). Belum lagi dengan para pekerja kantoran super sibuk seperti Atiek, Raissa, Vani, Ican, Dika-Tita, Puput, Gea, Intha, Yusa yang dengan sukarela memeras otak di galuh  diluar jam orang normal kerja.

Festival Gerakan Indonesia Mengajar, mengajak lebih banyak orang untuk mengambil pilihan tidak logis.

Festival Gerakan Indonesia Mengajar
Festival Gerakan Indonesia Mengajar

 

Memilih untuk sejenak meninggalkan dinginnya AC mall dan godaan diskon demi meluangkan waktu di akhir minggu dan bekerja bakti di ujung utara kota Jakarta. Memilih  untuk berbuat dan berpikir positif ditengah derasnya berita negatif yang membuat duduk dan mengeluh menjadi satu opsi yang viable. Memilih untuk berkontribusi daripada asik mencaci maki.

Untuk apa semua ini dilakukan? entahlah, aku juga sebenarnya tidak terlalu mengerti.  Apakah ada jaminan pendidikan Indonesia akan lebih baik setelah FGIM? tidak ada tapi ada kemungkinan.

Tapi aku membayangkan apa yang terjadi jika Bung Hatta menerapkan prinsip ekonomi yang telah dia pelajari 11 tahun dan memilih untuk tidak berjuang dan hidup nyaman. Mungkin aku yang lahir 85 tahun stelah beliau,  belum bisa merasakan kemewahan kemerdekaan.

Seperti yang divisikan Wachowski bersaudara di film Cloud Atlas, setetes kebaikan yang kita lakukan hari ini akan bergema sampai ke keabadian. Festival Gerakan Indonesia Mengajar, mengajak ribuan orang untuk memilih meninggalkan kenyamanan untuk berbuat setetes kebaikan. To work for a drop of kindness

In the end, what is an ocean but multitude of drops.

Sebuah kehormatan bagiku untuk bergabung di gerombolan tidak logis ini.

Hanya ada satu negara yang pantas menjadi negaraku, ia tumbuh dengan perbuatan, dan perbuatan itu adalah perbuatanku
– Indonesia Vrij, Pidato Mohammad Hatta di pengadilan tinggi Den Haag.

PS: Di pengadilan ini, diputuskan bahwa kerajaan Belanda akan mengganti kata kata Hindia Belanda diganti dengan Indonesia.

Advertisements

3 thoughts on “Pelajaran dari Bung Hatta

  1. Suka dg tulisan ini. Idola bangettt sama Bung Hatta. Kagum dg kedisiplinan dan kesederhanaannya
    Dan sebenarnya hampir semua pahlawan pergerakan dulu punya pilihan untuk hidup enak, toh mereka memilih pilihan tdk logis demi mewujudkan tujuan Indonesia merdeka

    Dan gw bahagia punya kesempatan untuk sedikit mengenal orang2 dgn tujuan yg sama ini di galuh dua nomer empat. Kerumunan positif dengan semangat yang krg lebih sama dg tokoh2 pergerakan ini

    Btw, itu quote yg di Indonesia Vrije bukan asli dr Bung Hatta, tp dr kata2 Rene dw Clerq yg diquote Bung Hatta. Otobiografi bung Hatta yg Untuk Negeriku bisa banget jadi referensi pemikiran2 Bung Hatta 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s